Anak Senang Merusak Mainan, Apa Artinya?

3 bulan lalu, by duniabunda

Anak Senang Merusak Mainan

Si kecil hobi merusak mainan padahal baru di beli? Jangan asal marah dulu ya bun. Yuk cari tahu penyebab anak senang merusak mainan disini.

Anak-anak memang tidak akan pernah jauh dari mainan. Sejak kecil, banyak sekali koleksi yang bisa jadi memenuhi kamar tidurnya.

Mainan memang tidak hanya sekadar menghibur si kecil setiap hari. Saat ini, mainan yang mampu meningkatkan perkembangan dan kecerdasan otak anak mudah Bunda temukan di pasaran.

Selama beberapa waktu si kecil asyik dengan mainannya yang sudah lama atau terhitung baru. Lalu, tiba-tiba saja anak senang merusak mainan dan membiarkannya tergeletak di lantai. Pernahkah Bunda melihat kejadian serupa?

Mereka malah asyik melempar, memukul, menginjak, atau bahkan melepas bagian-bagian dari mainan secara kasar.

Namun lebih dari itu, sebenarnya apa saja penyebab anak-anak suka merusak mainan?

Mengapa Anak Senang Merusak Mainan?

Ada banyak penyebab sehingga anak mudah merusak mainannya. Ini dia ulasannya

1. Anak-anak suka mencoba hal baru

Dikutip dari researchgate.net, anak-anak suka mencari pengalaman baru dari sesuatu yang ia miliki sebelumnya, termasuk merusak mainannya sendiri. Mereka akan membentuk pengalaman baru dengan menggunakan cara atau sarana yang berbeda.

Bisa jadi Bunda akan melihat pemandangan si kecil yang meletakkan mainan mobil-mobilannya di atas permukaan air hanya untuk melihat apakah mobil tersebut akan tenggelam.

Atau ketika anak-anak menggunakan boneka Barbie sebagai alat pemukul drum atau xylophone hanya untuk memastikan apakah bunyi yang dihasilkan akan sama seperti pemukul alat music yang sudah disediakan.

Anak-anak cenderung tenggelam dalam eksperimen dan percobaan yang berdampak pada mainan yang terlanjur rusak, berserakan, serta berantakan di mana-mana.

2. Si kecil sebenarnya marah

Anak Merusak Mainan Karena Sedang Marah

Anak Merusak Mainan Karena Sedang Marah photo by parentspartner.com

Ya, tanpa ada maksud tertentu, anak Bunda sebenarnya sedang marah. Mereka mengungkapkan kekesalannya dengan merusak barang-barang di sekitar, termasuk mainan kesayangannya.

Beberapa anak bisa jadi memiliki kondisi tertentu, yaitu keterlambatan bicara atau speech delay. Anak kecil pandai dalam menirukan sesuatu. Hal tersebut mungkin terjadi karena melihat langsung yang dilakukan orang dewasa ketika meluapkan amarah.

Sudah jadi hal yang wajar apabila si kecil tiba-tiba tantrum atau marah dan mengeluarkan emosi dengan cara merusak mainan.

Anak-anak, terutama balita sedang dalam masa trial and error untuk mengembangkan fungsi kognitifnya. Merusak mainan menjadi satu-satunya jalan untuk mengekspresikan kemarahan dan rasa tertekan yang mencemaskan bagi mereka.

3. Mengusir bosan

Si kecil mungkin merasa kalau mainannya memiliki fungsi dan cara bermain yang itu-itu saja, maka dari itu ia mulai mencoba menghindari kebosanan dengan mengalihfungsikan mainan dari yang seharusnya.

Keadaan tersebut memungkinkan mainan si kecil mudah rusak secara sengaja maupun tidak sengaja. Apabila belum puas, si kecil mungkin akan berpindah ke mainan yang lainnya untuk dimainkan dalam bentuk yang berbeda dari biasanya.

Bunda juga pasti sudah memahami kalau salah satu sifat yang mudah ditemui pada usia anak-anak adalah perasaan mudah bosan. Begitu pula ketika mereka berhadapan dengan mainan. Untuk menghilangkan rasa bosan itu, si kecil bisa jadi kelewatan ketika bermain dengan cara yang lain.

4. Sarana kreativitas

Pernahkah Bunda melihat si kecil merusak boneka mainannya dengan cara dilukis dengan cat air atau krayon? Kemudian ketika ditanya anak Bunda sontak menjawab kalau mereka hanya ingin merias boneka kesayangannya.

Cara anak untuk merusak mainan tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi kreativitas melalui apa yang dimilikinya.

Dilansir dari whitehatjr.com, keadaan tersebut justru membantu Bunda untuk mengecek tingkat kreativitas pada anak-anak. Sumber daya yang ada justru dimanfaatkan untuk mempelajari sesuatu yang baru dan terkadang hal tersebut adalah sesuatu yang wajar.

5. Daya imajinasi tinggi

Selama perkembangannya, si kecil pasti suka bermain dengan mengandalkan keberadaan imajinasi dan angan-angan yang muncul dalam pikirannya. Hal tersebut biasanya direalisasikan dalam kegiatannya sehari-hari, yaitu bermain.

Secara sadar atau tidak sadar, pada kenyataannya si kecil harus sampai merusak mainannya untuk membuat apa yang mereka mau menjadi nyata.

Bisa jadi sebuah mainan figur milik si kecil yang berperan antagonis dalam film kartun favoritnya harus rusak terlebih dahulu karena menurutnya karakter jahat tersebut harus dikalahkan oleh orang baik.

Hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri bagi Bunda ketika mereka bermain dengan memanfaatkan kehendaknya sendiri.

6. Penasaran dengan mainannya sendiri

Sama seperti dilakukannya sebuah eksperimen, si kecil sering merasa penasaran dengan apa yang terjadi bila mainannya dijadikan bahan percobaan dalam sebuah perlakuan. Misalnya, anak Bunda tiba-tiba ingin bermain sepatu roda dengan menggunakan mobil-mobilan.

Secara tidak sengaja mobil tersebut tentu akan rusak karena terinjak, bukan?

Akibat kejadian tersebut, mungkin si kecil akan melakukan hal serupa untuk menyertakan mainannya untuk sejumlah eksperimen. Hal tersebut menyebabkan si kecil senang merusak mainan.

7. Ingin mainan yang selalu baru

Bunda pernah mengetahui si kecil yang selalu ingin mainan baru setiap saat? Mungkin ada beberapa anak-anak yang senang merusak mainan karena selalu tergoda dengan iklan atau ketika melihat sosok mainan yang belum mereka punya secara tiba-tiba.

Tidak sedikit yang dirusak, tidak sedikit pula budget yang terbuang. Sifat manja pada anak-anak harus bisa Bunda latih supaya tidak menjadi kebiasaan dalam jangka waktu yang lama.

Pasti sayang kan, Bun kalau harus membuang mainan yang masih bagus dan harusnya bisa terawat?

8. Bercanda berlebihan

Si kecil mungkin juga sering dan sangat menyukai hiburan melalui lelucon dari banyak hal. Mereka bisa memanfaatkan mainan sebagai sarana hiburan yang terkadang bisa berlebihan.

Anak-anak melempar atau membongkar mainannya sebagai bahan bercanda, entah ketika bermain dengan orang tua, terutama dengan teman-temannya. Terlalu senang dan memberikan ekspresi berlebihan ketika bermain dengan teman bisa jadi mengubah sikapnya.

Mereka tidak segan memanfaatkan mainan dan barang di sekitar sebagai alat bermain yang berlebihan. Mainan mereka atau teman-temannya mudah rusak akibat terlalu sering mengalami kekerasan.

Cara Mengatasi Anak yang Senang Merusak Mainan

Apabila Bunda merasakan kendala pada anak yang suka merusak mainannya, ada baiknya untuk mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut. Supaya tidak menjadi sifat dan kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil, Bunda bisa mencoba beberapa cara berikut untuk mengatasinya.

1.  Belikan si kecil mainan yang bersifat bongkar pasang

Mainan Bongkar Pasang Untuk Anak

Mainan Bongkar Pasang Untuk Anak photo via amazon.com

Alternatif pasti yang bisa Bunda coba adalah menyediakan mainan yang berbasis bongkar pasang. Hal ini ditujukan untuk anak-anak yang suka penasaran dengan sebuah mainan dan mencoba membongkarnya hanya untuk melihat isi dari benda tersebut.

Untuk mencegah kerusakan permanen, permainan berbasis bongkar pasang memudahkan Bunda menyusun mainan dan dapat dipakai kembali oleh si kecil.

Bunda bisa memilih bahan yang lebih tahan bantingan pada mainan bongkar pasang yang dibeli untuk anak-anak.

2. Tanamkan rasa peduli

Bunda bisa mendampingi si kecil untuk belajar peduli dengan mainannya sekecil apapun. Dengan rasa peduli, mereka akan semakin menyayangi mainan dan ingin menjaga serta merawatnya supaya tidak cepat rusak.

Cara ini dapat Bunda praktekkan dengan menemani anak mengembalikan mainan ke tempatnya semula sembari sesekali membersihkan mainan bersama-sama.

Membiasakan sikap peduli dan baik kepada mainan akan merefleksikan bagaimana sikap mereka terhadap barang-barang yang dimilikinya saat sudah dewasa nanti.

3. Ajak bermain di luar rumah

Beberapa anak yang mengalami rasa bosan bermain di rumah bisa jadi berdampak pada betapa senangnya mereka merusak mainannya karena suntuk.

Untuk mengatasi perasaan tersebut, ajak mereka bermain dan beraktivitas di luar rumah sesekali. Anak-anak diberikan kesempatan untuk belajar hal baru melalui kegiatan yang menyenangkan.

Mereka bisa mengunjungi tempat-tempat edukatif yang tidak jauh dari rumah, misalnya taman bermain, kebun binatang, atau perpustakaan untuk membaca buku bersama Bunda.

4. Pusatkan perhatian

Merusak mainan adalah salah satu bentuk si kecil butuh perhatian yang lebih dari Bunda. Mungkin selama beberapa waktu Bunda menganggap hal tersebut wajar. Namun, semakin lama ada baiknya kalau Bunda mulai memerhatikan aktivitas mereka.

Mulailah berdialog dan berinteraksi pada anak-anak ketika mereka menginginkan perhatian yang lebih dari Bunda. Sediakan waktu untuk bermain sejenak supaya mereka tidak lagi meneruskan kebiasaan yang cenderung kurang baik.

Sesekali Bunda dapat mencoba untuk mengerti dan memahami apa yang si kecil inginkan melalui bermain bersama pada saat tertentu.

Dikutip dari howtoadult, beberapa anak yang membutuhkan perhatian dapat diarahkan menuju kegiatan positif bersama orang tua yang fokus kepada mereka.

5. Arahkan untuk meluapkan amarah dengan kegiatan lain

Bunda pasti paham ketika si kecil sudah memberikan tanda-tanda kalau ia sedang marah dan memutuskan untuk meluapkannya dengan merusak mainan.

Apabila sudah muncul sikap seperti itu, saatnya bagi Bunda untuk membibing mereka melakukan kegiatan lain sebagai pengalihan perasaannya saat itu.

Atau mungkin Bunda juga mampu memberikannya mainan yang cenderung susah untuk dirusak, namun berdampak untuk meredakan amarahnya untuk merusak mainan yang lain. Misalnya, dengan bola basket atau bola sepak dan didampingi atau bermain bersama Bunda.

6. Memberikan peringatan dengan cara yang mendidik

Sesaat setelah merusak beberapa mainannya, anak-anak cenderung memiliki peluang untuk mengulangi perbuatan tersebut. Tidak hanya memanjakan mereka, ada kalanya Bunda jadi lebih disiplin supaya terbentuk karakter yang kuat.

Cara ini bukan melalui peringatan yang hanya berisi marah dan kesal, ya Bun. Berikan peringatan dan teguran yang terkesan mendidik melalui bahasa yang mudah dipahami.

Setelah merusak mainan, ajak si kecil duduk bersama dan beritahu apa saja hal-hal yang menyebabkan mereka tidak boleh merusak mainannya kembali.

7. Belikan yang baru kalau sudah bisa merawat mainan sendiri

Hang out bersama keluarga di mall merupakan salah satu kesenangan tersendiri bagi anak. Di samping mereka bisa mendapatkan pakaian dan barang-barang baru, anak-anak juga tidak jauh dari yang namanya toko mainan.

Mereka cenderung merengek apabila permintaannya membeli mainan tidak dikabulkan. Bagi si kecil yang masih suka merusak mainan, ada baiknya Bunda memberikan pengertian lebih lanjut.

Berikan pernyataan bahwa mereka bisa mendapat mainan baru asalkan sudah mampu menjaga dan merawat sendiri beragam mainannya yang ada di rumah. Bisa juga dengan syarat yang lebih sederhana, seperti tidak melakukan kekerasan atau mampu mengembalikan mainan ke tempatnya semula.

8. Bawa si kecil ke pediatric atau psikolog

Apabila si kecil sudah tidak bisa Bunda atasi sendiri, seperti anak senang merusak mainan tanpa bisa dikendalikan. Tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter anak ataupun psikolog.

Bunda akan diarahkan untuk menghadapi dan mengatasi masalah tersebut secara pelan-pelan. Jangan khawatir anak-anak tidak mengalami perubahan karena bisa jadi para ahli akan memberikan saran yang tidak terduga dan justru berdampak positif ketika diterapkan.

 

Anak-anak suka merusak mainan karena mengalami beberapa situasi tertentu. Untuk mengatasi cara tersebut, gunakan solusi terbaik dan metode yang cocok untuk si kecil. Apabila sudah terlalu lama dan Bunda kesulitan menghadapinya, cobalah untuk mengutarakan masalah ini kepada para ahli di bidangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *