Bahaya Diare Pada Anak dan Komplikasinya

2 minggu lalu, by duniabunda

bahaya diare pada anak

Anak-anak memang rentan terserang penyakit yang tidak jauh dari faktor kebersihan atau higienitas, salah satunya adalah diare. Namun, apakah Bunda tahu apa saja bahaya diare pada anak?

Masa kanak-kanak memang waktu bagi Bunda untuk memperhatikan si kecil secara optimal. Terutama pada usia dibawah 3 tahun, karena pada usia tersebut si kecil sedang senang-senangnya bereskplorasi, salah satunya dengan memasukkan berbagai jenis benda yang ada disekitar. Hal ini adalah salah satu wujud rasa penasarannya terhadap sesuatu. Selain itu bayi memiliki system pencernaan yang belum sempurna sehingga mudah terkena diare maupun konstipasi.

Sesaat lagi Bunda akan memahami apa saja bahaya diare yang harus dicegah ketika menyerang anak-anak serta komplikasi yang bisa saja mengiringinya. Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

Apa Itu Diare?

Diare merupakan sebuah kondisi di mana tinja pada buang air besar terasa terlalu lunak hingga encer. Keadaan ini juga disertai dengan frekuensi buang air besar sampai lebih dari 3 kali sehari.

Dilansir dari hopkinsmedicine.org, diare dapat dibagi menjadi dua keadaan berikut:

  • Diare akut merupakan diare yang bisa berlangsung 1 sampai 2 hari atau lebih, namun bisa hilang dengan sendirinya. Diare ini biasanya disebabkan oleh makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Tetapi, bisa jadi ketika si kecil sedang sakit akibat terserang virus.
  • Diare kronis adalah diare yang berlangsung selama beberapa minggu. Hal ini bisa disebabkan oleh masalah kesehatan, seperti sindrom iritasi usus besar dan lain-lain.

Penyebab Diare Pada Anak

 

diare pada anak dan penyebabnya

diare pada anak dan penyebabnya

Diare pada si kecil bisa disebabkan oleh banyak hal, antara lain:

  • Infeksi bakteri atau virus
  • Kesulitan mencerna makanan tertentu atau intoleransi makanan
  • Respon sistem kekebalan tubuh atau alergi makanan pada anak
  • Parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau air
  • Reaksi terhadap obat-obatan
  • Penyakit usus
  • Masalah dengan cara kerja usus
  • Operasi pada perut atau kantong empedu

Perlu diingat, ya Bun. Anak-anak lebih rentan terserang diare dibandingkan dengan orang dewasa. Namun, pada orang dewasa, mereka yang mengunjungi beberapa negara banyak berisiko mengalami diare selama bepergian.

Hal tersebut bisa disebabkan oleh makanan atau air yang tidak aman dari virus, bakteri, maupun parasit. Apabila diare semakin parah, maka bisa jadi hal tersebut menandakan sebuah penyakit serius.

Gejala Diare

Niddk.nih.gov merangkum beberapa gejala yang dialami anak ketika terserang diare, yaitu:

  • Tinja berdarah
  • Panas dingin
  • Demam
  • Pergerakan usus tidak terkontrol
  • Mual atau muntah
  • Nyeri atau kram perut

Diagnosis Diare

Bahaya diare pada anak memang harus dicegah. Untuk itu, biasanya penyedia layanan kesehatan selalu bertanya mengenai riwayat dan kesehatan anak Bunda.

Selain pemeriksaan fisik, si kecil mungkin akan mendapatkan tes laboratorium untuk mengecek darah dan urin.

Tes lainnya mungkin juga termasuk:

  • Kultur tinja untuk memeriksa bekteri atau parasite yang bersarang pada pencernaan anak
  • Evaluasi feses untuk memeriksa tinja dari darah atau lemak
  • Tes darah untuk mengecek penyakit tertentu
  • Tes alergi atau intoleransi makanan
  • Sigmoidoscopy untuk memeriksa penyebab diare melalui bagian dalam dari usus besar anak

Kapan Bunda Harus Membawa Anak ke Dokter?

konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan diare pada anak

konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan diare pada anak

Kebanyakan anak yang terserang diare memiliki gejala ringan yang mudah membaik dalam beberapa hari. Yang terpenting adalah mereka harus cukup minum.

Dilansir dari patient.info, Bunda bisa mencari nasihat medis dari dokter untuk anak-anak ketika mereka mengalami situasi berikut:

  • Anak berusia di bawah 6 bulan
  • Ada kondisi medis yang mendasari, dapat berupa penyakit jantung, ginjal, diabetes, atau riwayat kelahiran prematur
  • Anak mengalami demam
  • Dugaan kurangnya cairan tubuh atau dehidrasi
  • Anak tampak mengantuk dan suka kebingungan
  • Anak sakit muntah dan tidak dapat menyimpan cairan di dalam tubuh
  • Diare atau muntah berdarah
  • Sakit perut parah
  • Ada gejala yang semakin parah
  • Muntah lebih dari 1 sampai 2 hari
  • Diare tidak kunjung reda dalam 3 sampai 4 hari

Bahaya Diare Pada Anak dan Komplikasinya

Setelah memahami beberapa penjelasan soal diare yang terjadi pada anak, kini juga harus tahu apa saja bahaya diare serta komplikasinya. Hal ini bisa saja mengiringi anak-anak apabila terlalu lama dibiarkan atau terdapat masalah tertentu di dalam tubuhnya.

penyakit lain yang dapat ditimbulkan oleh diare pada anak

penyakit lain yang dapat ditimbulkan oleh diare pada anak

1.      Dehidrasi

Kondisi ini bisa terdiri dari kekurangan cairan dan garam (elektrolit) yang tidak seimbang dalam tubuh. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi yang paling umum.

Dehidrasi bisa dikatakan terjadi ketika air dan garam hilang akibat keluar bersamaan dengan feses atau saat si kecil muntah dan tidak digantikan dengan cairan yang cukup. Keadaan dehidrasi yang tidak ditangani pada anak bisa menyebabkan kematian.

Tanda-tanda dehidrasi:

  • Penurunan buang air kecil
  • Mulut dan lidah terlihat kering
  • Mata cekung
  • Kulit keabu-abuan
  • Ubun-ubun cekung pada kepala bayi
  • Tidak ada air mata ketika menangis

2.      Komplikasi reaktif

Meskipun jarang terjadi, Bunda harus berhati-hati jika anak mulai mengalami reaksi pada bagian tubuh lain akibat infeksi pada usus.

Hal ini dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti radang kulit, radang mata, hingga radang sendi. Namun, kalau penyebab diare pada anak adalah virus, maka komplikasi reaktif biasanya jarang terjadi.

3.      Intoleransi laktosa

Terkadang dapat terjadi dalam jangka waktu tertentu setelah si kecil terinfeksi dengan diare. Intoleransi laktosa bisa dialami oleh anak karena lapisan usus yang cenderung rusak.

Selanjutnya, terjadi kekurangan bahan kimia atau enzim lactase yang diperlukan tubuh dalam mencerna laktosa yang ada di dalam susu.

Intoleransi laktosa ini bisa menyebabkan kembung, nyeri perut, masuk angin, hingga tinja berair setelah minum susu. Kondisi ini memang bisa membaik asalkan lapisan ususnya segera sembuh secara maksimal.

4.      Gangguan keseimbangan asam basa

Asisdosis metabolic adalah salah satu bahaya diare pada anak yang disebabkan oleh hilangnya Na bikarbonat bersama tinja.

Adanya metabolisme lemak yang tidak sempurna bisa jadi meninggalkan benda kotor tertimbun di dalam tubuh si kecil. Produk metabolisme yang sifatnya asam cenderung meningkat karena tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal.

5.      Gangguan gizi

Terjadi penurunan berat badan anak dalam waktu yang cukup singkat. Hal ini biasanya disebabkan oleh pengurangan makan supaya diare atau muntah tidak bertambah hebat. Makanan yang diberikan seringkali susah dicerna karena adanya pergerakan pencernaan yang berlebihan akibat diare.

6.      Hipoglikemia

Merupakan sebuah keadaan di mana kadar suplai glukosa tergolong rendah menuju alat-alat atau organ tubuh yang sifatnya vital. Apabila dibiarkan dan menetap, kondisi ini bisa berujung pada kematian.

Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare dan menjadi lebih sering pada si kecil yang sudah menderita Kekurangan Kalori Protein (KKP).

Hal ini bisa terjadi karena ada gangguan penyimpanan atau penyediaan glikogen dalam hati atau gangguan etabol glukosa. Gejalanya bisa muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40% pada bayi dan 50% pada anak-anak.

7.      Kejang

Dehidrasi selama diare ternyata juga menimbulkan risiko terjadinya kejang-kejang pada anak. Kondisi ini juga bisa menyebabkan kejang demam yang harus Bunda perhatikan dengan benar.

Gangguan kejang ini akan berdampak pada otot, kulit, dan paru-paru. Otot dan kulit akan mengalami kontraksi karena adanya peningkatan suhu tubuh akibat penyebaran toksik.

Paru-paru sendiri akan mengalami spasme yang memberikan risiko berupa injuri dari berlangsungnya jalan nafas. Yang harus diperhatikan adalah ketika anak sering mengalami kejang, Bunda harus waspada terhadap terjadinya epilepsi.

8.      Iritasi kulit

Kondisi ini biasanya terjadi di area anus akibat pH tinja yang cenderung asam. Pada anak yang masih menggunakan pampers, penyerapan biasanya menjadi terhambat dan kulit menjadi lembap.

Kulit yang lembap lebih rentan terhadap gesekan kulit dan pampers, sehingga kulit lecet dan terjadi iritasi. Feses dan urine yang tercampur mudah membentuk ammonia sebagai penyebab iritasi.

Iritasi kulit ini dapat berupa bintik-bintik merah atau bercak kemerahan. Bisa juga dalam bentuk luka bersisik dan meluas di daerah yang berkontak langsung dengan pampers.

9.      Hipovolemik

Merupakan sebuah kondisi hilangnya darah atau cairan tubuh lain di dalam tubuh anak dalam jangka waktu yang mendadak dan bisa anjlok dengan drastis. Kondisi ini bisa menyebabkan organ tubuh tidak bisa bekerja dengan baik.

Selain terjadi pengurangan darah itu sendiri, maka otomatis juga terjadi penurunan tekanan darah, nadi, serta respirasi maupun saturasi. Dehidrasi dengan syok hipovolemik harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian.

10.  Sindrom uremik hemolitik

Komplikasi yang satu ini tergolong jarang terjadi. Biasanya, sindrom uremik hemolitik terjadi akibat hubungannya dengan diare yang disebabkan oleh jenis infeksi E. coli tertentu.

Kondisi serius ini dapat berupa anemia, jumlah trombosit yang rendah dalam darah, serta gagal ginjal. Jika sindrom ini bisa diketahui dengan segera, maka kebanyak anak bisa segera sembuh dengan baik.

Perawatan Diare Pada Anak

Mengatasi diare pada anak harus dilakukan dengan telaten supaya tidak berlanjut kepada bahaya maupun komplikasinya.

Beberapa dasar tata laksana berikut bisa Bunda praktikkan ketika si kecil mulai terserang diare. Apa sajakah itu?

  • Untuk beberapa jenis diare, Bunda bisa membantu si kecil dengan memberikan probiotik yang bisa dibeli dalam bentuk pil atau cairan. Pastikan Bunda memilih produk khusus anak-anak dan konsultasikan dengan dokter jika si kecil masih berusia di bawah 3 tahun.
  • Jaga si kecil supaya tetap terhidrasi dengan memberikan cairan bantuan berupa asi, air, sup, atau larutan elektrolit.
  • Pemberian makanan kaya serat dapat membantu mengatasi masalah diare pada anak. Serat sering digunakan untuk mengatur pergerakan usus, sehingga baik untuk kondisi sembelit maupun diare. Makanan berserat tinggi yang bisa diberikan adalah pisang, apel, gandum, kacang polong, dan ubi jalar tanpa kulitnya.
  • Selain serat, berikan makanan yang kaya gizi seimbang. Makanan yang sehat akan mencegah terjadinya malnutrisi atau masalah gizi yang biasanya dialami oleh anak yang terserang diare. Selain itu, makanan sehat dapat memperbaiki kondisi tubuhnya untuk beradaptasi dan kembali sehat seperti semula.
  • Jangan terburu-buru ke dokter dan atasi dahulu diare sebisa mungkin. Sudah dijelaskan kalau Bunda bisa membawa si kecil ke dokter apabila diare sudah semakin parah.

 

Banyaknya bahaya diare pada anak bukanlah sesuatu yang boleh diremehkan. Apalagi, anak-anak memang rentan terkena diare dibandingkan orang dewasa. Oleh sebab itu, Bunda harus mampu mengetahui penanganan yang tepat supaya diare anak juga cepat mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *