Campak Pada Bayi : Penanganan dan Pengobatan yang Benar

9 bulan lalu, by duniabunda

campak pada bayi

Penyakit campak atau yang dikenal juga dengan nama morbili atau measles merupakan penyakit yang sangat menular yang sering ditemukan pada bayi dan anak anak, khususnya pada bayi dan anak anak  yang belum terlindungi melalui imunisasi. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular, ditandai dengan munculnya ruam di seluruh tubuh si kecil. Jika tidak ditangani dengan benar campak pada bayi ini dapat menyebabkan komplikasi yang cukup serius. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kasus campak dan rubella yang dilaporkan antara tahun 2014 sampai dengan Juli 2018 adalah 57.056 kasus, 8.964 positif campak dan 5.737 positif Rubella. Oleh karena itu, tidak heran jika pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk mencegah penyakit ini.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), keberadaaan penyakit campak di satu wilayah, dapat diasumsikan sebagai pertanda kurang optimalnya sistem pelayanan kesehatan. Pada tahun 1980, sebelum vaksinasi tersebar luas, campak menjadi penyebab kematian kurang lebih 2,6 juta setiap tahunnya. Oleh karena itu, pemerintah kita sedang menggalakkan imunisasi campak, dengan harapan Indonesia akan bebas campak di tahun 2020 ini, dan tentunya akan menurunkan angka kematian akibat penyakit campak.
Nah, si kecil sudah imunisasi campak belum Bund? Jangan takut imunisasi ya.

Penyebab dan Cara Penularan Campak

Penyakit campak disebabkan oleh Paramyxovirus. Udara (melalui percikan bersin, batuk) dan kontak langsung dengan penderita merupakan media penularan dari penyakit ini. Virus ini menginfeksi membran mukosa dan menyebar ke seluruh tubuh. Virus dapat ditularkan 4 hari sebelum dan 4 hari setelah munculnya ruam.

Tanda dan Gejala Campak Pada Bayi dan Anak Anak

Tanda dan gejala awal penyakit ini muncul sekitar 10 sampai 12 hari setelah si kecil terpapar virus campak. Beberapa tanda dan gejala yang muncul, yaitu:

  1. Demam tinggi (biasanya 2 sampai 4 hari)
  2. Bercak kemerahan atau ruam pada kulit. Umumnya, pada bagian wajah dan leher, beberapa hari kemudian ruam akan menyebar ke dada, tangan dan kaki. Ruam hilang setelah 5 sampai 6 hari.
  3. Batuk
  4. Pilek atau hidung berair
  5. Mata berair dan merah
  6. Terdapat bintik putih kecil pada dinding pipi bagian dalam
  7. Badan lemas
  8. Tidak nafsu makan
  9. Diare
  10. Muntah

Komplikasi Campak Pada Bayi dan Anak Anak

Komplikasi merupakan efek bahaya dari penyakit campak. Sebagian besar kematian akibat komplikasi yang muncul, dan sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Komplikasi serius yang mungkin terjadi adalah:

1.Ensefalitis

Ensefalitis merupakan peradangan pada otak. Gejala yang muncul, yaitu demam, nyeri kepala, letargi (kesadaran menurun) dan perubahan satus mental (koma). Akibat yang mungkin muncul dari ensefalitis adalah gangguan pendengaran bahkan bisa sampai kehilangan pendengaran, gangguan perkembangan, kelumpuhan dan kejang berulang.

2.Diare berat dan dehidrasi

3.Infeksi telinga, seperti otitis media

4.Pneumonia

Pneumonia merupakan peradangan akut pada jaringan paru. Virus campak dapat menginfeksi mukosa di saluran napas, sehingga akan terjadi peradangan dan meningkatkan risiko paru terinfeksi baik oleh virus maupun bakteri lainnya.

5Kebutaan

Campak yang lebih berat dapat terjadi pada anak yang memiliki gangguan sistem imun atau kekebalan tubuh, seperti anak dengan status nutrisi yang buruk, atau anak dengan penyakit HIV/AIDS atau keganasan.
Tidak hanya pada anak, infeksi ini juga mengancam Bunda yang sedang mengandung. Pada kehamilan, virus ini dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.

Penanganan Campak Pada Bayi dan Anak Anak

Sampai saat ini belum ada pengobatan khusus untuk mengobati penyakit campak. Penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh virus bersifat self limited atau sembuh dengan daya tahan tubuh yang baik. Penanganan yang baik bisa menurunkan risiko komplikasi.

Beberapa tips untuk merawat si kecil ketika terkena campak:

  1. Istirahat yang cukup dan membatasi aktivitas di luar rumah. Selain untuk memulihkan sistem kekebalan tubuh, membatasi aktivitas di luar rumah juga dapat membantu mencegah penularan infeksi ke orang di sekitarnya.
  2. Bunda bisa memberikan asupan nutrisi yang baik untuk si kecil. Makanan yang bergizi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh si kecil.
  3. Hindari makanan yang digoreng dan dingin untuk sementara karena penyakit ini menyebabkan iritasi pada kerongkongan. Pemberian makanan tersebut, malah membuat si kecil jadi tidak nyaman.
  4. Makan dengan porsi kecil tapi sering.
  5. Pemberian asupan cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi. Bila masih menyusui, berikan ASI atau susu formula. Bunda juga dapat memberikan oralit (larutan gula dan garam) untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang karena demam, diare dan muntah.
  6. Basahi kapas dengan air bersih dan usapkan ke mata si kecil untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada mata.
  7. Jaga suhu ruangan agar tetap sejuk dan nyaman
  8. Dokter mungkin memberikan obat-obatan untuk mengurangi gejala, seperti obat demam (Paracetamol, Ibuprofen), dan batuk. Berikan obat secara rutin, sesuai dengan petunjuk dokter.
  9. Umumnya antibiotik tidak dapat digunakan pada infeksi virus, namun jika si kecil mengalami komplikasi seperti pneumonia. Maka dokter akan meresepkan antibiotik sesuai dengan kebutuhan si kecil.
  10. Suplemen vitamin A untuk mencegah kerusakan mata dan kebutaan. Berdasarkan IDAI, Suplemen vitamin A dapat mengurangi angka kematian akibat campak sampai 50%
  11. Jaga kebersihan
    Untuk bayi, sebaiknya bunda melap dengan air hangat saja jadi tidak perlu dimandikan
  12. Jangan mencampur peralatan si kecil dengan orang rumah untuk menghindari penularan penyakit, untuk sementara waktu jangan mencampur peralatan makan dan mandi si kecil dengan siapa pun.
  13. Hindari paparan sinar matahari selama mata masih merah. Bunda juga dapat menutup gorden untuk mengurangi paparan sinar bagi mata si kecil.
  14. Bunda dapat memberikan bedak dingin untuk mengurangi gatal pada bayi dan mencegah bayi menggaruknya.
  15. Tidak ada pantangan tertentu terhadap penyakit campak, yang terpenting adalah menjaga asupan nutrisi dan cairan tubuh

Pentingnya Imunisasi Campak Pada Bayi

imunisasi campak pada bayi

imunisasi campak pada bayi

Menurut IDAI, wabah campak terjadi pada wilayah dengan cakupan imunisasi campak yang rendah. Pemberian imunisasi campak di satu wilayah dapat melindungi anak-anak di wilayah tersebut terhadap penyakit menular ini dan untuk mendapatkan hasil perlindungan yang maksimal, maka imunisasi campak harus mencapai cakupan yang tinggi yaitu lebih dari 90 sampai 95% pada satu wilayah. Jadi, salah satu cara ampuh untuk mencegah penyakit campak dan melindungi anak dari kecacatan dan kematian adalah dengan memberikan perlindungan kepada si kecil melalui imunisasi.

Vaksin yang direkomendasikan adalah vaksin kombinasi Campak dan Rubella (MR). Vaksin MR ini menggantikan vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubbela) yang saat ini sudah tidak tersedia lagi. Vaksin MR merupakan jenis vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated).

Berdasarkan IDAI, Vaksin MR wajib diberikan pada usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Selanjutnya, imunisasi ini akan masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD/sederajat.

Aturan Imunisasi dari Pemerintah

Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016, juga dijelaskan bahwa imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya maka imunisasi hukumnya wajib.

Jadi, jangan takut untuk memberikan imunisasi untuk si kecil ya Bund. Pemberian imunisasi sebagai perlindungan penyakit merupakan tanda kasih sayang orang tua untuk si kecil. Dapatkan vaksin hanya di fasilitas kesehatan ya Bund, untuk menghindari mendapatkan vaksin palsu atau vaksin yang tidak berkualitas.

Apakah efek samping yang mungkin muncul setelah imunisasi MR?

Vaksin MR adalah vaksin yang sangat aman, namun pada beberapa anak mungkin dapat muncul efek samping, seperti:

  1. Nyeri, bengkak dan kemerahan di lokasi penyuntikan
  2. Demam ringan
  3. Ruam atau kemerahan
  4. Lemas atau malaise, Umumnya, efek samping nyeri, demam, ruam dan lemas akan hilang dalam 2 sampai 3 hari dan untuk meringankan gejala Bunda mungkin akan diberkan obat sesuai gejalanya.
  5. Reaksi alergi berat, seperti reaksi anafilaksis. Meskipun jarang terjadi, namun reaksi ini juga tetap harus diwaspadai. Reaksi anafilaktik merupakan reaksi hipersensitivitas yang terjadi dengan cepat (umumnya 5 sampai 30 menit sesudah suntikan diberikan).
  6. Gangguan yang paling menonjol adalah gangguan sirkulasi dan pernapasan. Tanda awal reaksi anafilaktik adalah kemerahan (eritema) menyeluruh disertai dengan gatal (urtikaria) dan obstruksi jalan nafas atas dan/atau bawah ditandai dengan sesak napas. Pada kasus berat dapat timbul keadaan lemas, pucat, hilang kesadaran dan hipotensi (tekanan darah menurun). Reaksi ini harus segera ditangani karena dapat mengancam jiwa.

Mungkin Bunda juga pernah mendengar kabar mengenai imunisasi MR dapat menyebabkan autisme pada si kecil, sehingga Bunda menjadi takut untuk memberikan vaksin ini. Nah, tidak perlu khawatir lagi ya Bund, IDAI menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi apapun termasuk campak dapat menyebabkan si kecil menderita autis.

Apakah ada kontraindikasi dari penggunaan vaksin MR?

Tentunya, sebelum melakukan imunisasi, Bunda diharuskan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Berdasarkan IDAI, secara umum, vaksin MR tidak boleh diberikan pada beberapa kondisi berikut ini:

  1. Individu yang sedang menggunakan obat golongan kortikosteroid, imunosupresant (obat yang menekan daya tahan tubuh), dan raditerapi
  2. Wanita hamil
  3. Individu dengan kelainan darah, seperti leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  4. Kelainan fungsi ginjal berat
  5. Decompensatio cordis (gagal jantung)
  6. Individu yang baru saja mendapatkan injeksi gamma globulin atau transfusi darah
  7. Riwayat alergi Neomicyn

Selain itu, pemberian imunisasi pada si kecil juga akan ditunda, bila:

  1. Demam
  2. Batuk pilek
  3. Diare

Meskipun penyakit campak merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular, penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Jadi, pastikan Bunda memberikan imunisasi yang lengkap untuk si buah hati ya Bund! Tentunya lebih baik mencegah daripada mengobati. Semoga informasi yang Dunia Bunda berikan bermanfaat ya Bund!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *