10 Cara Mendidik Anak Yang Benar Tanpa Harus Berteriak dan Membentaknya

3 minggu lalu, by duniabunda

cara mendidik anak yang benar tanpa teriakan

Berbicara soal anak-anak, umumnya fase pertumbuhan yang satu ini merupakan periode paling krusial bagi dirinya sendiri maupun Ayah dan Bunda. Setidaknya, Ayah dan Bunda sebagai orang tua harus mampu menerapkan cara mendidik anak yang benar dan optimal.

Namun, masih sering kita temukan Ayah dan Bunda yang masih mendidik dengan cara cukup keras, yaitu berupa membentak maupun berteriak.

Sebenarnya, ada banyak cara yang lebih tepat untuk mendidik buah hati menjadi pribadi penuh sopan santun dan bertata krama baik. Untuk itu, mari simak penjelasan di bawah ini!

Mengapa Bunda Masih Mendidik Anak Dengan Berteriak dan Membentak?

Mungkin, jawaban singkat dan paling masuk akal adalah rasa marah, tidak sabar atau kewalahan tersebut membuat Bunda meninggikan suara. Namun, percayalah kalau hal tersebut malah tidak meredakan situasi.

Si kecil mungkin menjadi lebih patuh kepada Bunda, tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama. Bahkan, belum tentu mengubah sikap dan perilaku yang seharusnya dibenahi.

Singkatnya, berteriak dan membentak hanya akan membuatnya takut kepada Bunda dan tidak memikirkan konsekuensi yang tepat terhadap perbuatannya.

Sejatinya, anak-anak akan senantiasa mengandalkan orang tua sebagai tempatnya belajar hal yang baru. Apabila kemarahan dan agresi tersebut dianggap normal dalam sebuah keluarga, tidak heran perilaku mereka juga tidak jauh dari sikap negatif tersebut.

Dilansir dari healthline.com, Laura Markham, Ph.D, seorang pendidik orang tua menyatakan bahwa pekerjaan nomor satu Bunda sebagai orang tua adalah mengelola emosi diri sendiri.

“pekerjaan nomor satu kita sebagai orang tua adalah mengelola emosi diri sendiri.”

-Laura Markham,Ph.D-

Dampak Mendidik Anak Dengan Berteriak dan Membentak

depresi adalah dampak buruk sering membentak anak

depresi adalah dampak buruk sering membentak anak

Ketika Bunda sudah membiasakan diri mendidik si kecil dengan cara-cara yang salah dan tidak efektif, sebaiknya ubah pola asuhan tersebut mulai sekarang.

Berbagai dampak di bawah ini akan membuat Bunda semakin paham mengapa cara mendidik anak yang benar sangat dibutuhkan dalam kehidupan.

Baca juga Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak dan Dampak Negatifnya

1. Memperburuk masalah perilaku anak

Mungkin Bunda berpikir kalau satu-satunya cara untuk mengatasi masalah perilaku anak hanyalah dengan berteriak.

Namun, penelitian sudah menunjukkan bahwa hal itu hanya menciptakan lebih banyak masalah jangka panjang. Berteriak membuat perilakunya semakin buruk.

Di samping itu, anak-anak yang diteriaki orang tua berisiko meningkatkan perilaku buruk pada tahun-tahun berikutnya. Tidak ada perbedaan dari kedisiplinan keras yang berasal dari Ayah dan Bunda, keduanya sama-sama membentuk alur perilaku lebih buruk.

2. Mengubah cara otak berkembang

Berteriak, membentak, hingga pola asuhan keras lainnya benar-benar mampu mengubah cara otak si kecil berkembang. Hal ini disebabkan oleh ciri khas manusia yang memproses informasi serta peristiwa negatif lebih cepat dibandingkan dengan yang baik.

Mengutip healthline.com, salah satu studi pemindaian MRI otak manusia yang memiliki riwayat pelecehan verbal orang tua di masa kanak-kanak dengan yang tidak memilikinya.

Di sana, terdapat perbedaan fisik signifikan dan nyata pada bagian-bagian otak yang bertanggung jawab dalam memproses suara serta bahasa.

3.  Memicu terjadinya depresi

Selain anak-anak yang merasa sedih, takut, atau sakit hati ketika orang tua membentaknya, pelecehan verbal memiliki kemampuan untuk memicu masalah psikologis lebih dalam dan berkembang sampai dewasa.

Penelitian mengenai anak-anak yang dibentak menemukan bahwa ada peningkatan gejala terjadinya depresi. Penelitian lain juga menyatakan ada hubungan antara pelecehan emosional dengan depresi atau kecemasan.

Perilaku yang memburuk biasanya didorong dengan tindakan merusak diri sendiri, seperti penggunaan narkoba atau self-harming.

4. Berdampak negatif pada kesehatan

Sebuah studi menemukan bahwa pengalaman masa kecil yang negatif, termasuk teriakan dan bentakan dari orang tua mampu memicu perkembangan kondisi kronis kesehatan di kemudian hari. Hal ini dapat berupa sakit kepala parah, masalah punggung leher, serta keadaan kesehatan lainnya.

Cara Mendidik Anak yang Benar Tanpa Membentak dan Berteriak

menetapkan aturan yang jelas pada anak

cara tepat mendidik anak tanpa teriakan dengan menetapkan aturan yang jelas

Berbagai dampak buruk di atas tentu membuat Bunda tidak ingin kalau si kecil mengalaminya, bukan? Untuk itu, sebaiknya Bunda dan orang tua lainnya mampu menerapkan pola didikan yang lebih baik dan tetap mengajarkan sesuatu dengan cara lebih positif.

Apa saja yang bisa orang tua lakukan dalam mendidik anak?

1. Tetapkan aturan yang jelas

Bunda cenderung tidak akan berteriak apabila ada aturan rumah yang jelas dalam menanggapi perilaku si kecil setiap saat.

Ketika sebuah aturan mulai dilanggar, berikan konsekuensi secara langsung. Namun, berikan timbal balik yang sepadan dan masuk akal supaya ia dapat menyadari kekeliruannya.

Tahan setiap keinginan untuk berteriak, mengomel, atau berlagak paling berkuasa di depan buah hati. Ketika Bunda melakukannya, maka Bunda sudah menghilangkan kesempatan untuk membantunya menjadi anak yang lebih baik dan dewasa.

2. Tetapkan konsekuensi menggunakan tenggat waktu

Jelaskan konsekuensi yang diperoleh si kecil ketika melanggar aturan atau melakukan kesalahan. Gunakan waktu untuk menyendiri, mengambil hak istimewanya, atau konsekuensi logis lain untuk memperbaiki perilaku.

Misalnya, Bunda bisa mengatakan kepadanya, “Kalau adik tidak menyelesaikan tugas sebelum makan malam, maka tidak ada jatah untuk menonton TV.” Dari situ, Bunda bisa melihatnya memilih pertimbangan menuju hal yang baik.

Bunda tidak akan berteriak lagi kepada anak-anak karena mereka mampu melaksanakan tugasnya. Jangan lupa untuk memilih tindakan konsekuensi paling efektif. Namun, perlu diingat, kalau strategi yang berhasil untuk seorang anak belum tentu manjur untuk anak lainnya.

3. Berikan kekuatan positif!

Dorong si kecil untuk melakukan perbuatan terpuji dengan menggunakan penguatan yang positif. Jangan lewatkan kesempatan untuk memujinya setiap kali ia mampu menaati peraturan.

Bunda bisa menggunakan ungkapan berupa, “Terima kasih ya, dik sudah mengerjakan pekerjaan rumah tepat waktu sebelum Bunda sampai di rumah. Bunda sangat menghargainya.”

Menurut verywellfamily.com, Bunda bisa berikan banyak perhatian positif untuk menghindari perilaku yang cenderung mencari perhatian menggunakan cara-cara kurang baik.

Luangkan waktu empat mata setiap hari supaya anak-anak terus bekerja dengan baik. Jika ada kesulitan dalam perilaku tertentu, Bunda juga bisa membantunya dengan sistem penghargaan.

Gunakan buku stiker untuk memacu semangat anak-anak yang lebih kecil. Untuk si kecil yang lebih besar, Bunda bisa memakai sistem token yang menarik.

4. Refleksikan kembali alasan Bunda membentak

Jika Bunda mendapati diri sendiri membentak si kecil akibat sesuatu hal, coba periksa kembali penyebab Bunda bisa bereaksi seperti itu.

Apabila Bunda berteriak karena amarah, pelajari strategi terpenting untuk menenangkan diri. Hal ini akan membantu Bunda dalam menapaki strategi pengelolaan emosi yang lebih sehat. Pastikan juga Bunda tidak dalam keadaan lapar dan kelelahan karena hal tersebut juga memicu emosi jadi lebih cepat naik.

Luangkan waktu bagi diri sendiri untuk mengumpulkan pikiran Bunda. Tunggu sampai Bunda yakin merasa tenang setelah mendisiplinkan si kecil.

Kalau Bunda berteriak karena ia tidak mendengarkan ketika Bunda berbicara, cobalah strategi baru untuk mendapatkan perhatiannya. Hal ini bisa dicoba dengan berlatih memberikan instruksi efektif tanpa meninggikan suara.

Namun, kalau Bunda membentak karena kesal, kembangkan cara yang jelas untuk mengatasi perilaku buruknya. Seringkali, orang tua meneriakkan ancaman kosong yang tidak ditindaklanjuti lebih jauh.

5. Berikan peringatan daripada membentak

Daripada menghabiskan tenaga untuk berteriak, alangkah baiknya bagi Bunda untuk memberikan peringatan ketika anak tidak mendengarkan.

Jika Bunda menggunakan frasa “ketika…maka…”, si kecil biasanya jadi lebih paham kemungkinan sebuah hasil yang dilakukannya.

Bunda katakan sebuah hal, seperti saat si kecil mengambil mainan, “adik bisa bermain setelah makan malam.” Berteriak biasanya justru mengacu pada perebutan kekuasaan.

Semakin Bunda membentak si kecil untuk melakukan sesuatu, ia akan selalu bertindak untuk menantang.

6. Tindak lanjuti dan laksanakan

Hindari kebiasaan untuk mengomel dan mengulangi peringatan hingga berulang kali. Bunda mampu menindaklanjutinya dengan konsekuensi untuk menunjukkan bahwa ada kesungguhan dengan apa yang Bunda katakan.

Disiplin yang konsisten merupakan sebuah kunci untuk mengubah perilaku anak menjadi pribadi yang lebih baik.

Selalu ingat bahwa mengambil gadget miliknya selama 24 jam atau memberinya tugas tambahan merupakan cara efektif dibandingkan membentak atau berteriak kepadanya.

7. Katakan Ya untuk Ya

Coba pikirkan sejenak, apa reaksi spontan normal Bunda terhadap ribuan permintaan yang Bunda dapatkan dari si kecil setiap hari? “Tidak”, bukan?

Ketika Bunda dibombardir dengan permintaan, terasa susah untuk menyaringnya dengan cara yang berarti. Jadi, Bunda biasanya hanya melontarkan beberapa pernyataan seperti, “Tidak ya, tidak hari ini,” atau “Tidak, Bunda belum ada waktu untuk itu,” dan lain sebagainya.

Mulailah mencari alasan untuk sering mengatakan “Ya” untuk mengejutkan serta menyenangkan anak Bunda. Mereka akan lebih memperhatikan ketika Bunda memintanya melakukan sesuatu.

Dibandingkan berkata, “Tidak, kita tidak bisa pergi ke taman,” ganti dengan “Tamannya bagus sekali ya! Bagaimana kalau kita ke sana besok Sabtu?”

Selain itu, daripada berkata, “Tidak, adik tidak boleh makan es krim,” pakailah “Es krim terasa dingin dan enak. Adik mau makan es krim untuk Sabtu atau Minggu malam?”

8. Ucapkan terima kasih

Bantulah si kecil memilih dan menerapkan pilihan yang tepat dengan memberikannya keyakinan pada diri sendiri.

Tindakan lebih baik berupa, “Terima kasih sudah menggantung handuk adik seusai mandi,” dibandingkan “Bunda tidak mau lihat lagi ada handuk di lantai!”

Anak-anak biasanya mampu memenuhi harapan orang tua jika ia dibantu dengan cara yang lebih positif. Dengan memberikan kepercayaan kepada anak lebih dulu, jalur komunikasi bisa dipupuk sebaik mungkin supaya tugas-tugasnya cepat selesai.

9.  Pastikan pemahamannya

Cara sederhana untuk memastikan bahwa si kecil sudah mendengarkan Bunda adalah dengan memintanya mengulangi kembali apa yang Bunda ucapkan.

Kebanyakan penelitian sudah menyatakan bahwa metode pengajaran kembali dapat membantu meningkatkan kemampuan retensi informasi seseorang.

Setelah Bunda melakukan kontak mata, mempersingkat ucapan dan peringatan, serta menjelaskan apa yang ingin si kecil lakukan, mintalah anak mengulangi daftar tugas yang harus diselesaikan.

10.  Lakukan observasi

Jika Bunda melihat si kecil belum menyelesaikan tugasnya, jangan langsung menegurnya dan cukup lakukan sedikit observasi.

“Bunda lihat ada jaket di lantai” atau gunakan “Apa yang adik rencanakan untuk bersih-bersih rumah kali ini?”

Bahkan, menghindari perebutan perusahaan akan memberdayakan si kecil untuk segera membuat rencana sebelum memilikinya. Setiap hari, Bunda pasti punya kesempatan untuk melakukan siklus pemberdayaan parenting efektif di seluruh percakapan.

 

Melalui cara mendidik anak yang benar, kini Bunda jadi semakin tahu kiat-kiat sukses yang lebih tepat dalam membesarkan buah hati tersayang. Hindari berteriak dan membentak supaya tidak ada dampak buruk terjadi pada anak seiring perkembangannyq menjadi lebih dewasa.

Baca juga 12 Rekomendasi Buku Parenting Terbaik untuk Panduan Bunda Mengasuh Balita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *