10 Penyebab dan Cara Mengatasi Kolik Pada Bayi Baru Lahir

3 bulan lalu, by duniabunda

cara mengatasi kolik pada bayi baru lahir

Kolik pada bayi, terutama bayi baru lahir merupakan hal yang wajar terjadi. Bunda jangan panik, namun tetap waspada. Berikut cara mengatasi kolik pada bayi.

Pernahkan bunda mendapati bayi menangis tak berhenti selama berjam-jam tanpa sebab. Mimik wajahnya yang seperti kesakitan dan memerah membuat Bunda panik dan berpikir apa ada yang salah.

Popoknya tidak basah, bayi tidak sedang lapar dan sudah digendong sedemikian rupa, tapi tetap saja tidak menghentikan tangisannya.

Namun, sejam berikutnya tangisnya tiba-tiba reda dengan sendirinya dan bayi Bunda tampak anteng-anteng saja, seolah-olah tidak terjadi apa apa.

Tentu saja Bunda bingung dengan apa yang terjadi dengan bayi Bunda. Sebagian bahkan mulai mengait-ngaitkan kondisi ini dengan hal hal yang berbau mistis.

Tahukah Bunda jika hal ini merupakan hal yang wajar terjadi pada bayi dan dalam dunia medis disebut Kolik. Setidaknya 1 dari 5 bayi baru lahir akan mengalami kondisi ini.

Yuk pahami penyebab kolik dan cara mengatasinya disini.

Apa Itu Kolik?

Dilansir dari whattoexpect.com, bayi dengan kolik biasanya menangis tanpa alasan yang pasti. Kolik bukan sebuah penyakit, tetapi kombinasi perilaku yang agak membingungkan.

Kolik merupakan sebuah istilah umum untuk menangis berlebihan pada bayi yang sehat, namun tidak ada solusi yang pasti untuk mengatasinya selain mengikuti perkembangan waktu.

Bunda bisa menemui peristiwa ini biasa terjadi pada 1 dari 5 bayi dalam masa pertumbuhannya. Masa-masa rewel akibat kolik bisa berlangsung sampai berjam-jam, bahkan sampai larut malam.

Kapan Kolik Terjadi Pada Bayi?

Bunda tidak perlu khawatir karena kolik tidak terjadi sepanjang waktu. Umumnya dimulai ketika bayi baru berumur 2 sampai 3 minggu.

Kondisi ini memuncak pada usia 6 minggu dan berakhir dengan sendirinya pada usia 10 sampai 12 minggu.

Tentunya keadaan tersebut bisa diminimalisir dengan mengurangi faktor risiko penyebab kolik pada si kecil.

Gejala Kolik

Dokter biasanya mendiagnosis kolik pada bayi menggunakan tiga aturan berikut:

  • Menangis setidaknya 3 jam sehari.
  • Menangis berjam-jam terjadi minimal 3 kali dalam seminggu.
  • Paling sedikit berlangsung selama 3 minggu berturut-turut.

Selain tiga aturan yang digunakan oleh dokter, Bunda bisa melihat tanda dan gejala tersebut secara mandiri. Tanda-tanda kolik pada bayi yang biasa dijumpai, antara lain:

  • Bayi menangis pada jam-jam tertentu setiap hari. Biasanya pada sore atau malam hari, namun bervariasi.
  • Tangisannya tidak disebabkan oleh masalah apapun, termasuk popok penuh, lapar, atau kelelahan.
  • Suka menendang-nendang dan mengepalkan tangan ke udara seperti ingin memukul.
  • Sering menutup mata dan membuka mata lebar-lebar, mengerutkan alis, serta bernapas tersengal-sengal.
  • Aktivitas Buang Air Besar meningkat. Bisa jadi sering buang angin atau muntah.
  • Makan dan tidur jadi terganggu karena bayi menangis.
  • Mencari puting susu Bunda kemudian menolaknya setelah diarahkan untuk menyusu. Selain itu, tertidur sebentar kemudian bangun untuk menjerit dan menangis.

Penyebab Kolik

penyebab kolik pada bayi baru lahir

penyebab kolik pada bayi baru lahir

Sebelum mencoba berbagai cara mengatasi kolik pada bayi, Bunda pahami terlebih dahulu kalau ada beragam penyebab kolik yang sedang dialami, terutama pada bayi baru lahir.

Dilansir dari mayoclinic.org, penyebab kolik memang tidak diketahui, namun ada banyak kemungkinan yang diteliti sebagai faktor risiko pada si kecil.

Beberapa penyebab berikut mungkin bisa membantu Bunda memahami mengapa si kecil bisa mengalami kolik.

1. Stimulasi indra berlebihan

Bayi baru lahir umumnya memiliki mekanisme untuk menyelaraskan pemandangan dan suara dari lingkungan sekitar.

Mekanisme tersebut memungkinkan bayi bisa tidur dan makan tanpa terganggu oleh suasana lingkungannya.

Mendekati akhir bulan pertama, mekanisme ini perlahan menghilang dan membuatnya lebih peka atau sensitif terhadap rangsangan di sekitarnya. Membuatnya kewalahan dan merasa stress, sehingga ditumpahkan dalam bentuk tangisan.

Kolik akan berhenti apabila mereka sudah mampu menyaring serta menghindari sensorik yang berlebihan.

2. Sistem pencernaan yang belum sempurna

Mencerna makanan adalah tugas yang cukup besar untuk pencernaan bayi baru lahir.

Asupan makanan melewati pencernaan dalam waktu yang cepat tanpa pemecahan nutrisi secara maksimal. Akibatnya, muncul rasa sakit dan akumulasi gas yang berlebihan pada usus.

3. GERD pada bayi

Kejadian risiko GERD pada bayi bisa memicu kolik pada bayi dalam jangka waktu tertentu. GERD ini terjadi karena otot yang menjaga asam lambung mengalir kembali ke tenggorokan kurang berkembang.

Hal tersebut mengakibatkan iritasi kerongkongan dengan gejala tertentu, seperti muntah, kualitas makan yang buruk, serta mudah marah selama diberi asupan ASI.

GERD sendiri dapat diatasi oleh si kecil ketika mencapai umur 1 tahun. Kolik bisa berhenti sebelum mencapai usia tersebut.

4. Alergi atau hipersensitifitas makanan

Kolik merupakan hasil dari intoleransi laktosa pada bayi yang diberikan asupan susu formula. Selain itu, kolik bisa jadi reaksi alergi akibat makanan diet yang dikonsumsi Bunda ketika menyusui.

Alergi dan kepekaan yang ditimbulkan ini menyebabkan sakit perut pada bayi, sehingga muncullah kolik yang terasa mengganggu pada si kecil.

5. Paparan rokok

Penelitian menunjukkan bahwa Bunda yang merokok selama atau sesudah kehamilan cenderung memicu bayi mengalami kolik.

Selain itu, ada banyak alasan kesehatan yang memengaruhi tumbuh kembang bayi apabila terpapar oleh rokok. Pastikan Bunda tidak merokok atau tidak membiarkan orang di sekitar merokok ketika bersama si kecil.

Cara Mengatasi Kolik Pada Bayi

Bunda bisa melakukan penanganan kolik secara mandiri maupun dengan bantuan medis. Sesuaikan dengan kondisi si kecil.

Bunda bisa mengikuti beberapa tips berikut ini.

1. Menanggapi dan merespon si kecil

dekapan hangat ibu dapat menenangkan kolik pada bayi

dekapan hangat ibu dapat menenangkan kolik pada bayi

Menangis merupakan salah satu cara si kecil menyampaikan keluhan serta kebutuhannya. Begitu juga dengan caranya menanggapi rangsangan dari lingkungan di sekitarnya.

Bunda bisa segera menghampiri si kecil dan menenangkannya dengan berbagai sentuhan, seperti menggendong dan memeluknya.

Merespon tangisan dan keluhannya sesegera mungkin bisa mengurangi dampak yang terjadi akibat kolik pada si kecil.

Apalagi jika Bunda membiasakan respon yang tanggap. Perlahan si kecil juga ikut terbiasa untuk meminimalisir tangisan yang sering ditumpahkan olehnya.

Dampingi si kecil secara intensif dan penuh kesabaran supaya kolik pada bayi juga ikut berkurang secara perlahan.

2. Bentuklah lingkungan yang rileks dan tenang

Ciptakan kondisi lingkungan yang teratur dan tenang. Bunda bisa mengaplikasikan beberapa cara, kegiatan, dan aktivitas berikut.

  • Setel lagu atau audio yang menenangkan dengan suara-suara lembut.
  • Redupkan cahaya lampu kamar atau ruangan lainnya untuk menciptakan suasana yang rileks.
  • Mandikan si kecil dengan air hangat kemudian pijat-pijat badannya dengan lembut.
  • Gunakan selimut atau kain yang hangat untuk membalutnya ketika beristirahat.
  • Bantu si kecil tertidur dengan meletakkannya di atas kereta dorong kemudian dorong lembut dan perlahan.
  • Ajak bersantai dengan meletakkannya di atas ayunan yang aman. Goyangkan ayunan pelan-pelan.

Jangan lupa untuk berkoordinasi dengan anggota keluarga lainnya supaya cara ini dapat dilakukan dengan maksimal. Bunda dan si kecil akan semakin terbantu kalau lingkungan juga mendukung.

3. Ubah pola makan Bunda ketika menyusui

menyusui bayi dengan lebih baik dengan mengatur pola akan ibu

menyusui bayi dengan lebih baik dengan mengatur pola akan ibu

Dilansir dari parenting.firstcry.com, ketika bayi mulai mengalami kolik dan kondisinya tidak membaik selama beberapa lama, sebaiknya atur kembali pola makan serta nutrisinya.

Si kecil menerima asupan gizi melalui ASI. Maka, bisa jadi ada kandungan makanan yang bersifat intoleran ketika dikonsumsi oleh bayi.

Bunda perlu mengetahui bahwa salah satu penyebab kolik adalah diet makanan yang Bunda konsumsi ketika menyusui.

Hindari  junk food serta minuman bersoda atau kafein terlebih dahulu supaya tidak menimbulkan reaksi kolik setelah si kecil menyusui.

Asupan Bunda adalah asupan bayi menyusui juga. Minuman bersoda hanya meningkatkan kadar toksin di dalam tubuh Bunda, sedangkan minuman berkafein hanya akan menyebabkan perut kembung pada bayi.

Selain itu, junk food hanya mengandung bahan-bahan yang memberikan efek samping negatif untuk kesehatan si kecil.

4. Ganti botol susu dan dot

Ada banyak botol dan dot yang lebih nyaman digunakan oleh si kecil untuk mengurangi kolik yang dialaminya.

Menurut webmd.com, Bunda bisa memberikannya botol dengan desain khusus atau dot dengan lubang yang lebih kecil supaya gas yang dihisap tidak terlalu banyak.

Lubang yang terlalu besar kadang membuatnya tidak nyaman sekaligus membutuhkan banyak udara yang terhisap.

Bunda bisa memposisikannya secara tegak ketika minum menggunakan botol dan dot. Jangan lupa untuk membantunya bersendawa setelah menerima asupan tambahan.

5. Berikan tekanan atau massage pada perut si kecil atau pijat kolik untuk bayi

Pijat Kolik Pada Bayi Telah Terbukti Efektif Atasi Kolik

Pijat Kolik Pada Bayi Telah Terbukti Efektif Atasi Bayi Rewel Akibat Kolik

Beberapa bayi dengan kolik akan merasa lega dan nyaman ketika ada tekanan yang mengalir pada area perutnya.

Bahkan, kekuatan sentuhan sendiri bisa menenangkan Bunda dan si kecil secara bersamaan.

Arahkan bayi untuk menghadap ke bawah pada posisi pangkuan atau tegakkan hingga perut si kecil menempel pada bahu Bunda.

Coba juga posisi colic carry, di mana bayi berbaring menghadap ke bawah dengan perut bersandar pada bagian lengan Bunda.

Setelah melakukan salah satu posisi tersebut, Bunda bisa menggosok atau memijit punggungnya dengan lembut serta penuh kenyamanan. Pastikan si kecil bisa rileks dan menerima aktivitas yang Bunda berikan untuk meringankan koliknya.

6. Periksa dan ganti popok secara berkala

Untuk meningkatkan kenyamanan si kecil sebagai cara mengatasi kolik pada bayi baru lahir, Bunda sebaiknya sering-sering memeriksa popok sekaligus menggantinya tiap beberapa jam sekali.

Paling tidak, pada bayi baru lahir Bunda harus mempersiapkan diri untuk mengganti popoknya setiap 3 jam sekali.

Apabila si kecil juga mengalami ruam popok, kondisi tersebut tentu semakin membuatnya mudah rewel. Pastikan Bunda tidak membiarkan popoknya terlalu kotor dan basah.

Ruam popok menyebabkan rasa gatal, panas, serta kulit kemerahan pada si kecil. Dengan rajin mengganti popok, gejala ruam sekaligus kolik juga bisa teratasi, bukan?

7. Penggunaan antigas tetes

Konsultasi Dengan Dokter Untuk Atasi Kolik Karena Kembung

Konsultasi Dengan Dokter Untuk Atasi Kolik Karena Kembung

Studi telah menunjukkan bahwa dengan mengurangi gas di dalam tubuh, maka hal tersebut juga membantu memperbaiki kenyamanan.

Begitu juga dengan bayi, ketika perutnya kembung dan penuh gas, tentu si kecil tidak merasa nyaman serta dampak dari gejala koliknya semakin bertambah.

Bunda bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu dengan mencoba tetes gas melalui Simethicone.

Simethicone bekerja secara efektif mengurangi tekanan gas supaya lebih mudah ketika dikeluarkan lewat saluran pencernaan.

Apabila cara ini memungkinkan, dokter akan membantu Bunda dalam pemberian tetes gas dengan takaran atau komposisi yang pas supaya mampu mengurangi kolik pada bayi.

8. Pastikan bayi tidak kelaparan

Meskipun Bunda sudah membiasakan diri untuk memberikan asupan nutrisi pada jam-jam tertentu, sebaiknya Bunda juga harus menyusui si kecil sebelum benar-benar kelaparan.

Kalau Bunda menunggunya sampai menangis, bisa jadi kolik berlanjut selama berjam-jam.

Berikan ASI semaksimal mungkin untuk mengurangi risiko kolik yang membuatnya semakin suka menangis dan rewel sepanjang hari.

9. Ajak bayi keluar rumah

Tenangkan bayi kolik dengan mengajaknya berjalan jalan

Tenangkan bayi kolik dengan mengajaknya berjalan jalan

Berjalan-jalan bersama di luar rumah menggunakan gendongan atau kereta dorong bisa jadi alternatif terbaik supaya si kecil juga mendapatkan suasana baru yang lebih tenang.

Bunda bisa mengajaknya ke tempat-tempat yang segar dan tenang, seperti taman yang masih berdekatan dengan rumah.

Pastikan suasana perjalanan juga nyaman, setel musik yang menenangkan, dan dekap si kecil dengan hangat. Perhatiannya bisa jadi teralihkan dengan tenang.

Setelah itu, Bunda bisa mengenalkannya kepada lingkungan baru yang juga mendukung untuk mengurangi gejala koliknya.

10. Jika terjadi kondisi tertentu, segera bawa si kecil ke dokter

Bunda membutuhkan pendampingan dokter atau tenaga profesional lainnya ketika si kecil mulai menunjukkan tanda-tanda berikut.

  • Suhu tubuhnya bisa mencapai lebih dari atau sama dengan 38 derajat Celcius
  • Susah makan hingga diare
  • Sering muntah-muntah
  • Menangis seharian penuh selama beberapa minggu

Beberapa gejala pendamping kolik di atas bisa jadi memberikan tanda ada masalah atau gangguan lainnya. Konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan alternatif yang sesuai.

 

Nah demikianlah cara mengatasi kolik pada bayi baru lahir, menangani bayi yang mengalami kolik memang tidak mudah. Bunda harus bersabar dan mampu mendampingi si kecil dengan telaten, apalagi bayi baru lahir.

Namun, apabila hal ini berlangsung hingga berbulan-bulan dan semakin parah, sebaiknya Bunda segera membawa si kecil ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *