Cara Menghukum Anak yang Tepat Tanpa Menggunakan Kekerasan

3 minggu lalu, by duniabunda

cara menghukum anak tanpa kekerasan

Seiring perkembangannya, anak tentu sering melakukan kesalahan. Namun, Bunda harus bisa memilah cara menghukum anak tanpa menggunakan kekerasan.

Kekerasan justru tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, Bunda harus selalu bijak dalam memilih tindakan paling tepat dalam menghukum anak yang melakukan kesalahan.

Sebenarnya, apa saja alasan Bunda harus menghukum anak dengan cara yang benar? Lalu, apa saja cara yang lebih baik dan lepas dari kekerasan?

Mengapa Orang Tua Masih Ada yang Menghukum Anak Menggunakan Kekerasan?

Sebagian besar orang tua beranggapan bahwa kekerasan akan membantu mendisiplinkan seorang anak, terutama ketika mereka melakukan kesalahan.

Konsep tersebut menutupi fakta bahwa sebenarnya orang tua harus menyediakan rasa aman, cinta, kasih sayang, hingga kesejahteraan untuk mengayomi anak-anaknya.

Padahal, hukuman dengan kekerasan hanya akan memberikan banyak pengaruh negative bagi setiap aspek kehidupan si kecil, baik saat ini maupun nanti.

Baca juga Rekomendasi Buku Parenting Terbaik untuk Panduan Bunda Mengasuh Anak

Inilah Mengapa Bunda Tidak Perlu Menggunakan Kekerasan Ketika Menghukum Anak

Kekerasan dalam menghukum anak hanya akan memberikan dampak yang buruk dan merugikan bagi Bunda sendiri maupun anak-anak.

Dilansir dari Brightside.me, berikut beberapa alasan mendasar mengapa Bunda harus memakai cara menghukum anak tanpa kekerasan yang perlu Bunda ketahui.

menghukum anak dengan kekerasan tidak baik bagi perkembangan mentalnya

menghukum anak dengan kekerasan tidak baik bagi perkembangan mentalnya

1.      Kekerasan tidak berhasil dan hanya memperparah keadaan

Anak-anak memang bisa jadi memaksa dan orang tua memiliki batasannya. Namun, ketika anak mendapatkan kekerasan, si kecil tidak akan mendapatkan apa-apa.

Penelitian sudah menunjukkan bahwa kekerasan tidak berhasil dalam jangka panjang sebagai cara mendisiplinkan anak. Mereka perlu menginternalisasi penyebab di balik perilaku buruk mereka.

Dengan kata lain, anak-anak perlu memahami kalau mereka memang membutuhkan penjelasan mengapa cara berperilaku mereka masih tidak tepat. Kekerasan bukan cara yang tepat untuk menghentikan kesalahan anak.

2.      Kekerasan merupakan sebuah cara untuk menjadi orang tua kasar bagi anak yang teraniaya

Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas kasus pelecehan anak dimulai dengan tindak kekerasan sebagai hukuman. Biasanya, orang tua merasa hukuman fisik belum berhasil, sehingga mereka berani meningkatkan jumlah kekerasan ketika anak melakukan kesalahan.

Setiap kali orang tua mengharapkan kekerasan sebagai disipliner terbaik, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi.

Penggunaan kekerasan yang meningkat cenderung membawa orang tua menuju perilaku pelecehan dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

3.      Kekerasan menimbulkan agresor di masa depan

Anak-anak yang mendapatkan hukuman fisik sejak kecil cenderung melakukan hal yang sama terhadap pasangan atau anaknya sendiri  di masa depan. Mereka memiliki risiko tinggi sebagai seorang pelanggar hukum.

Kata-kata orang tua memang bisa membujuk seorang anak, namun teladan memberikan pengaruh dan dampak yang lebih kuat terhadap kehidupan mereka.

Jika Bunda atau Ayah mengutamakan kekerasan dalam menghukum dan menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh anak, maka mereka akan cenderung mempelajari sekaligus melakukan tindakan tersebut.

4.      Anak bisa terserang depresi

Bayangkan, jika Ayah memukul Bunda, apa yang Bunda rasakan? Apakah Bunda masih merasa Ayah mencintai Bunda? Jawabannyak mungkin tidak.

Begitu juga yang dirasakan anak terhadap orang tua apabila selalu mendapatkan hukuman kekerasan berupa pukulan atau sejenisnya.

Anak-anak mulai meragukan kasih sayang serta cinta orang tua begitu mereka memberikan hukuman fisik yang membekas di tubuh dan pikirannya. Kehidupan seorang anak memang hanya berputar pada orang tuanya, mereka bisa mulai merasa tidak dicintai dan menderita depresi klinis.

Hal ini sangat memengaruhi cara mereka bersosialisasi sekaligus mendorong si kecil cepat merasa frustasi.

5.      Anak jadi mudah jatuh sakit

Hanya dengan merasakan atau melihat tindak kekerasan secara konsisten, seorang anak bisa mencapai tingkat yang mampu merusak sistem kekebalan tubuhnya.

Menghadapi hukuman fisik yang sangat kuat dapat memerosotkan ketahanan tubuhnya, sehingga mudah terserang penyakit. Kondisi kesehatan yang parah akan memperburuk keadaaan mereka, bukan?

Cara Menghukum Anak Tanpa Kekerasan

Penjelasan di atas tentu membuka pikiran Bunda untuk memiliki pemahaman kalau menghukum dengan kekerasan bukanlah tindakan yang terpuji. Cara-cara di bawah ini bisa Bunda terapkan ketika si kecil memang harus belajar membenahi dan merefleksikan kesalahannya.

1. Berikan pujian atas perilaku yang baik

berikan pujian pada anak atas perilaku baik

berikan pujian pada anak atas perilaku baik

Siapakah di antara Bunda yang tidak senang kalau si kecil menjadi anak yang baik dan patuh? Tentu semua Bunda menginginkan kondisi tersebut.

Dikutip dari verywellfamily.com, masalah perilaku atau kenakalan ternyata bisa dicegah dengan memberikan pujian setiap kali anak melakukan perilaku yang terpuji.

Misalnya, ketika ia berlaku baik selama bermain dengan saudaranya, Bunda bisa memberikan pujian berupa, “Kamu melakukan pembagian permainan yang bagus hari ini. Pertahankan, ya!”

Apabila Bunda sedang berkumpul bersama si kecil dan beberapa orang lainnya, perhatikan tingkah lakunya kemudian berikan pujian selama perilakunya penuh sopan santun.

Dengan membiasakan hal tersebut, Bunda tidak perlu melakukan tindak kekerasan karena si kecil makin paham apa saja perilaku baik yang harus dijunjung setiap harinya.

2.  Abaikan jika anak meminta dengan cara kurang sopan

 cukup abaikan jika anak meminta dengan sikap kurang sopan

cukup abaikan jika anak meminta dengan sikap kurang sopan

Pengabaian yang selektif biasanya lebih efektif dibandingkan dengan tindak kekerasan terhadap anak-anak. Tapi, bukan berarti Bunda tidak peduli ketika anak melakukan perilaku yang berbahaya atau tidak pantas, ya.

Pengabaian ini bisa dilakukan ketika si kecil sedang mencari perhatian. Ketika ia mencoba mencari perhatian dengan merengek atau mengeluh, coba lihat kearah lain dan berusahalah untuk tidak merespon.

Selanjutnya, apabila ia mulai memberikan permintaan dengan sikap yang lebih baik, kembalilah memberikan perhatian lebih kepadanya.

Seiring berjalannya waktu, ia akan belajar bahwa perilaku yang sopan merupakan cara yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka.

Dengan begitu, anak akan cenderung menerapkan sikap-sikap terpuji dibandingkan berperilaku nakal, manja, atau seenaknya sendiri.

3.  Hilangkan hak istimewa

hilangkan hak istimewa anak

hilangkan hak istimewa anak

Dilansir dari verywellfamily, cara ini bukan bertujuan untuk menghukum anak supaya tunduk, namun membantu mereka belajar membuat pilihan yang lebih baik di masa depan.

Tetapi, Bunda tidak boleh lupa bahwa hal ini juga membutuhkan latihan. Jika si kecil menentukan pilihan yang buruk, ajarkan kepada mereka bahwa konsekuensinya adalah kehilangan hak istimewa. Kerugian ini harus setara dengan perilaku yang diperbuat.

Supaya mereka mampu belajar, berikan tenggat waktu sampai kapan hal istimewanya terambil. Umumnya, kurun waktu 24 jam cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut supaya ia dapat belajar dari kesalahannya.

Jika menonton TV adalah salah satu hak istimewanya, Bunda bisa menginstruksikan hal berikut, “Adik tidak boleh menonton TV sampai besok karena sudah melakukan kesalahan. Adik bisa menonton TV lagi mulai esok hari setelah membantu mama membersihkan rumah.”

4. Berikan konsekuensi yang logis

ajarkan anak tentang konsekuensi atas perbuatannya

ajarkan anak tentang konsekuensi atas perbuatannya

Konsekuensi yang logis merupakan cara yang bagus untuk mendukung anak-anak bergumul dengan masalah perilaku tertentu.

Perlu diingat, konsekuensi harus berkaitan dengan perilaku yang sudah dilakukan oleh si kecil. Tolak ukurnya juga harus seimbang dan sebanding.

Contoh yang bisa diaplikasikan, yaitu ketika anak tidak mau menyantap makan malamnya, jangan biarkan dia makan camilan sebelum pergi tidur.

Atau ketika anak tidak mau menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya, jangan izinkan si kecil bermain untuk sementara waktu sampai tugasnya selesai.

Menghubungkan konsekuensi dengan masalah secara langsung terhadap perilaku akan membantunya melihat bahwa sebuah pilihan akan memberikan konsekuensi yang sebanding atau setara.

5.  Ajarkan keterampilan baru

ajarkan anak bagaimana cara bersika yang benar

ajarkan anak bagaimana cara bersika yang benar

Salah satu masalah utama dari tindak kekerasan terhadap anak adalah orang tua yang tidak mengajari anak bagaimana berperilaku dengan baik dan terpuji.

Melakukan kekerasan dengan cara memukul atau sejenisnya karena melampiaskan amarah tidak mengajarkan mereka bagaimana menenangkan diri saat terserang amarah atau emosi.

Anak-anak akan mendapatkan manfaat yang positif dan mampu mempelajari cara memecahkan masalah, mengelola emosi, dan berkompromi. Ketika Bunda mau mengajarkan beberapa hal tersebut, masalah perilaku berangsur-angsur akan berkurang.

Cara yang satu ini termasuk lebih bijaksana sekaligus memberikan nilai tambah bagi sifat anak-anak. Gunakan kedisiplinan yang bertujuan untuk mengajar, bukan menghukum atau menganiaya.

6.  Berbicaralah kepada sang anak

berbicaralah dari hati ke hati dengan anak

berbicaralah dari hati ke hati dengan anak

Semua orang mungkin juga paham kalau “hanya berbicara” tidak akan membawa sang anak ke mana mana ketika sudah melakukan kesalahan.

Dilansir dari mom.com, sangat baik untuk membicarakan yang sudah terjadi dan membiarkan si kecil meluangkan waktu untuk merenungkannya.

Kedisiplinan yang efektif adalah dengan mendengarkan dan memvalidasi perasaan kemudian menemukan jejak yang berhasil diterima oleh anak.

Membicarakan sebuah perilaku kepada anak juga dapat menjelaskan apa saja yang ada di balik penyebab adanya tingkah maupun perilaku yang sudah dilalui.

Faktanya, Bunda harus mampu berbicara dengan lebih mendalam dan mengutarakan pendapat secara dua arah supaya Bunda juga dapat memahami apa yang ia pikirkan atau rasakan.

7.  Bangun hubungan sebelum mengoreksi

bangun kedekatan emosional yang baik dengan anak

bangun kedekatan emosional yang baik dengan anak

Bunda harus mampu membangun hubungan yang dekat dengan si kecil sebelum mengoreksi kesalahannya. Terhubunglah hingga saat membimbing untuk membangun keinginan anak dalam menjadi yang terbaik.

Dilansir dari psychologytoday, Bunda harus selalu ingat bahwa anak-anak bisa berperilaku buruk apabila mereka merasa buruk mengenai diri sendiri dan tidak mampu berhubungan dengan Bunda.

Beberapa contoh berikut bisa membantu Bunda untuk memahami cara yang satu ini:

  • Lakukan kontak mata dengan penuh kasih dan katakan “Apakah adik takut memberitahukan soal piring yang pecah kepada Bunda?”
  • Letakkan tangan di bahunya sambil berkata, “Jangan takut, sekarang coba ceritakan semuanya kepada Mama.”
  • Membungkuklah dan usahakan Bunda menatap kedua matanya
  • Jemput mereka setelah melakukan kesalahan dan damping sampai si kecil lebih tenang

8.  Koneksi dan kasih sayang menjadi rahasia yang membantu anak-anak ingin mengikuti petunjuk Bunda

tunjukkan kasih sayang bunda kepada anak

tunjukkan kasih sayang bunda kepada anak

Bunda bisa memberikan banyak pengaruh baik setelah berusaha terkoneksi dengan si kecil. Dia akan merasa terhubung setelah merasa dipahami dan merespon dengan kasih sayang serta penerimaan, bukan penilaian.

Namun, kasih sayang tidak hanya berlaku untuk anak saja, tetapi juga diri Bunda sendiri. Bunda tidak bisa menjadi orang tua yang penyayang jika masih merasa buruk terhadap diri sendiri.

Ketika mengetahui ada kesalahan yang sudah diperbuat oleh anak, peluk anak seerat mungkin. Koneksi dan kasih sayang akan mengindahkan segalanya.

Cobalah untuk memprioritaskan koneksi dan kasih sayang kemudian lihat apa saja keajaiban yang bisa Bunda bangun bersama anak-anak.

9.  Ajari anak untuk memperbaiki

ajarkan anak tentang tanggung jawab

ajarkan anak tentang tanggung jawab

Mulailah dengan sebuah pelajaran bahwa kita semua membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh diri sendiri.

Hal ini bisa direalisasikan dengan mengajarkan mereka untuk mengambil tisu atau serbet ketika susunya tumpah sekaligus membantu membersihkannya, tentu saja tanpa membuatnya merasa lebih bersalah atau malu.

Semakin bertambahnya usia, ajarkan anak untuk memperbaiki hubungan dengan saudaranya setelah mereka bertengkar. Ajari mereka juga untuk memperbaiki kegusaran atau emosi negatif di dalam dirinya.

Setelah melakukan kesalahan dan alih-alih dihukum dengan kekerasan, Bunda mampu membiasakannya untuk menahan rasa malu dan mengucapkan kata maaf. Hal ini juga membantunya memilih langkah yang lebih tepat dan benar.

10.  Berikan waktu istirahat

berikan anak waktu untuk memikirkan kesalahannya

berikan anak waktu untuk memikirkan kesalahannya

Istirahat bisa berguna ketika aturan tertentu dilanggar oleh si kecil kesayangan Bunda. Cara disiplin ini bisa bekerja dengan baik ketika Bunda ingin memperingatkan anak yang tidak mau berhenti melakukan kesalahan.

Cara ini bisa diterapkan dengan mencoba membiarkan mereka memimpin waktu seorang diri dengan menyetel alarm. Anak bisa beristirahat dan mintalah ia kembali ketika situasi emosi sudah terkendali.

Strategi yang satu ini akan membantu anak belajar mempraktikkan keterampilan manajemen diri dan bekerja lebih baik ketika sudah semakin dewasa.

 

Dengan berbagai cara menghukum anak tanpa kekerasan, kini Bunda harus meninggalkan cara mendidik yang kurang tepat. Bangunlah kepercayaan diri si kecil untuk berani memperbaiki kesalahannya. Dengan begitu, Bunda sudah berperan menjadi orang tua yang hebat bagi kehidupan anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *