10 Kebiasaan Berbahaya yang Dilakukan Orang Tua Pada Anak

3 bulan lalu, by duniabunda

kebiasaan berbahaya yang dilakukan orang tua kepada anak

Bertugas sebagai orang tua dan mengurus anak tentu tidak pernah mudah. Anak-anak harus mendapatkan penanaman nilai-nilai positif dari kedua orang tuanya selama bertumbuh menjadi semakin dewasa.

Dikutip dari moms.com, para ayah dan ibu tentu tidaklah sempurna karena faktanya masih ada hal-hal yang dilakukan orang tua tanpa disadari dan mengajarkan anak mengenai banyak kebiasaan buruk.

Tidak hanya itu, kebiasaan ini juga bisa membawa si kecil kepada kondisi jatuhnya fisik atau mental yang serius. Lalu, sebenarnya apa saja kebiasaan berbahaya yang sebaiknya dihindari oleh Ayah dan Bunda?

Kebiasaan Berbahaya yang Dilakukan Orang Tua Pada Anak

Ada beberapa kebiasaan yang secara tidak sadar masih dilakukan orang tua dan berdampak bahaya jika diteruskan pada anak. Entah itu dalam aspek kesehatan, fisik, maupun mental, yang pasti anak-anak susah mengembangkan dirinya dengan baik.

Berikut kebiasaan-kebiasaan yang terlihat biasa, namun sebenarnya mampu mengancam kehidupan anak-anak secara jangka panjang:

1. Membiarkan anak mengendarai sepeda tanpa helm

membiarkan anak mengendarai sepeda tanpa memakai helm

membiarkan anak mengendarai sepeda tanpa memakai helm

Tidak heran kalau bersepeda menjadi salah satu kegiatan yang amat disukai oleh anak-anak. Aktivitas yang satu ini mampu mengajarkan buah hati mengenai kemandirian, kebebasan, sekaligus kesenangan yang diinginkan.

Namun, mengendarai sepeda bisa jadi berbahaya ketika kegiatan ini dilakukan secara tidak bertanggung jawab, terutama bagi mereka. Untuk itu, orang tua harus menjadi cerminan dari perilaku sang anak.

Menggunakan helm menjadi aturan keselamatan nomor satu saat berkendara dengan moda transportasi sejenis sepeda.

Jika dibiarkan dan tidak sengaja terjatuh, anak mudah mengalami gegar otak, trauma, maupun cedera yang parah. Sebaiknya, manfaatkan helm untuk melindungi kepalanya selama berkendara tanpa pengawasan.

2. Menarik dan mengayunkan lengan anak

orang tua bermain dengan mengayunkan lengan anak

orang tua bermain dengan mengayunkan lengan anak

Masih ada orang tua yang bermain bersama anak atau balita dengan sesekali menarik dan mengayunkan lengannya hanya untuk sekadar bergurau.

Dibalik tawa anak-anak yang Bunda ajak bercanda, ternyata kebiasaan ini mudah menimbulkan rasa sakit yang menentu pada bagian siku si kecil. Ligamen, sendi, dan tulang yang masih berkembang jadi mendapatkan risiko terjadinya pergeseran sendi siku atau nursemaid’s elbow.

Anak-anak cenderung memiliki persendian yang tersusun atas ligamen minim atau masih belum sekuat orang dewasa. Menariknya terlalu keras atau sering mudah meningkatkan kejadian ligament robek atau terpelintir.

Umumnya, hal ini memang tidak mengakibatkan cedera jangka panjang. Namun, kebiasaan ini berpotensi membawa anak-anak dalam mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit dan menimbulkan bekas yang tidak terlupakan baginya.

3. Mengayunkan anak bayi ke udara

mengayunkan bayi ke udara

mengayunkan bayi ke udara

Saking gemasnya orang tua terhadap anak bayi, nyatanya bisa jadi muncul kebiasaan Ayah atau Bunda untuk mengayun dan melemparkan si kecil ke udara. Hal tersebut semata-mata hanya untuk membuatnya tertawa.

Namun, tidak disangka-sangka jika kebiasaan yang satu ini mampu menimbulkan risiko yang fatal terhadap kelangsungan kesehatan anak bayi dan terserang Shaken Baby Syndrome.

Shaken Baby Syndrome mampu membuka celah bagi beberapa dampak buruk, seperti kerusakan syaraf, perdarahan otak, cedera mata, leher, dan tulang belakang, hingga bisa berujung pada kematian.

Bayi memang rentan terhadap guncangan, apalagi jika dilakukan terlalu keras dan awalnya tidak bergejala apa apa. Tetapi, pada waktunya akan muncul gejala pengiring yang berakibat dari ketidaksengajaan orang tua dalam memanjakan si kecil.

4. Menggendong anak sambil merokok

orang tua merokok sambil menggendong bayi

kebiasaan fatal orang tua merokok sambil menggendong bayi

Mungkin Bunda masih sering melihat pemandangan bapak-bapak yang masih saja menggendong dan menciumi anaknya ketika sedang merokok. Kebiasaan ini nyatanya mampu membahayakan kondisi tubuh sang buah hati.

Tentu Ayah dan Bunda sudah paham kalau tingkat risiko perokok aktif tergolong lebih rendah dibandingkan perokok pasif, di mana anak-anak bertindak sebagai perokok pasif.

Selain itu, sistem pernafasan anak-anak masih berkembang dan tidak boleh terpapar zat berbahaya, termasuk kandungan yang ada di dalam rokok. Kondisi ini mampu memicu alergi, batuk-batuk, hingga risiko pernafasan lainnya.

Ada baiknya jika Ayah terpaksa harus merokok, lakukan di luar ruangan yang tidak mudah menghubungkan kontak dengan anak-anak. Jangan lupa mandi dan mencuci tangan seusai merokok, sebelum berinteraksi dengan si kecil.

5. Membiarkan anak berdiri di atas kursi

anak dibiarkan bermain dengan berdiri diatas kursi

anak dibiarkan bermain dengan berdiri diatas kursi

Paling tidak, kebiasaan ini menjadi salah satu alasan penyebab cedera yang paling umum, terutama banyak dilakukan oleh balita maupun anak-anak.

Bunda perlu tahu kalau anak-anak tidak mudah dihentikan sekaligus ingin memanjat semua hal yang ada di sekitarnya, salah satunya adalah kursi. Lebih tepatnya, berbagai macam kursi.

Anak rentan terjatuh dari kursi tinggi dan biasanya mampu memicu terjadinya trauma kepala serta gegar otak. Para ahli menyarankan orang tua untuk mengikat anak ketika berada di kursi makan, tidak membiarkannya seorang diri, serta mengawasinya ketika berada di dekat kursi.

Hal ini harus diantisipasi dengan baik supaya kemungkinan terjatuh atau menendang kursi tidak menjadi kebiasaan yang berdampak fatal bagi kesehatan anak.

6. Menakut-nakuti anak

orang tua menakut nakuti anak

orang tua menakut nakuti anak

Umumnya, menakut-nakuti dilakukan oleh orang tua untuk menggoda dan bercanda atau menegurnya ketika melanggar suatu aturan tertentu.

Hal ini juga dilakukan dalam bentuk memberikan unsur khayalan akan sosok menyeramkan atau terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan anak. Upaya ini tentu tidak membuahkan hasil dan hanya mengundang ketakutan serta tangisan bagi anak Bunda.

Meskipun akhirnya diam dan ingin menurut keinginan orang tua, ternyata dampak buruknya dapat menghantui anak sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan ketakutan yang sudah mencapai alam bawah sadar.

Sampai ia beranjak dewasa, kondisi ini hanya akan berpengaruh pada rasa trauma dan tidak jarang menimbulkan masalah kesehatan mental yang tidak bisa ia hindari.

7. Memberi makan terlalu berlebihan

memberikan makanan terlalu berlebihan pada anak

memberikan makanan terlalu berlebihan pada anak

Ayah dan Bunda biasanya suka melihat anak-anak yang menghabiskan makanannya. Secara tidak langsung, Bunda akan menambahkan porsi makannya dan terkadang bisa melebihi batas atau berlebihan.

Tidak hanya berlebihan dalam kuantitas, nyatanya masih banyak orang tua yang membiasakan anaknya untuk mengonsumsi fast food atau makan cepat saji hanya karena lebih praktis. Jika berlebihan pula, maka bisa berdampak pada kondisi kesehatan anak akibat gizi yang tidak seimbang.

Fast food yang dikonsumsi tanpa batas mampu meningkatkan risiko terserang penyakit jantung, obesitas, maupun diabetes. Kandungan lemak dan gula yang tinggi juga memegaruhi kenaikan kolesterol jahat dalam tubuh.

Ada baiknya anak-anak mendapatkan asupan nutrisi dan gizi yang berasal dari makanan sehat sepanjang hari. Jika tidak digalakkan, kebiasaan ini cenderung membawa dampak sangat buruk bagi kehidupannya.

8. Mengutamakan tindakan emosional

orang tua bertindak terlalu emosional

orang tua bertindak terlalu emosional

Kebiasaan menegur dan memberikan hukuman ketika anak-anak melakukan kesalahan juga memberikan pertanda mengenai bagaimana Bunda berusaha untuk membesarkannya.

Kebiasaan menghukum dengan cara kekerasan atau komentar verbal yang menyakitkan ternyata tergolong berbahaya bagi perkembangan kognitif serta mental anak-anak. Ia hanya akan merasa tidak dicintai sekaligus tidak berharga.

Terlepas dari kesalahan anak, Bunda harus berhati-hati karena kebiasaan ini bisa jadi muncul tanpa penyebab dan menjadikan anak pelampiasan dari keadaan tidak mendukung dari lingkungan sekitar.

Mengorbankan anak untuk kebiasaan yang berbahaya dan berjangka panjang tentu akan merugikan masa depannya.

9. Terlalu banyak memberikan asupan manis-manis

membiarkan anak menkonsumsi makanan manis terlalu sering

membiarkan anak menkonsumsi makanan manis terlalu sering

Rasa-rasanya hampir semua anak menerima pemberian makanan yang berupa cake, permen, manisan, maupun snack lainnya. Untuk itu, Ayah dan Bunda membiasakan konsumsi gula anak jika mereka merasa lapar.

Padahal, kebiasaan ini akan berpengaruh pada kesehatan gigi anak. Struktunya jadi mudah rapuh dan berlubang. Belum lagi dengan sisa makanan manis yang masih menempel dan berkembang menjadi karang gigi.

Meskipun lahap dan terlihat menyukai makanan apa saja, Bunda harus paham bahwa berlebihan dalam asupannya mudah berpengaruh pada kesehatan giginya.

Tidak hanya itu, risiko terjadi diabetes serta komplikasi dini bisa berbahaya bagi nyawa si kecil. Mulai saat ini, sudah banyak orang tua yang mengantisipasi kondisi berbahaya dengan mengurangi pemberian makanan manis.

10. Mencekoki makanan ketika tidak mau makan

memaksa anak untuk makan

memaksa anak untuk makan

Sudah banyak orang tua yang memaksa anak untuk makan saat mereka memang tidak ingin makan. Atau mencekokinya saat makannya terlalu lama dengan mengunyah secara perlahan.

Masih ada orang tua yang memaksa buah hatinya menerima asupan yang tidak disukai dan tidak ingin dikonsumsi. Pemberian jamu peningkat nafsu makan yang lebih banyak dipakai untuk membujuk si kecil.

Anak-anak sudah memberontak dan benar-benar tidak mau dipaksa. Biasanya, orang tua akan memeganginya dan makanan dipaksa masuk melalui mulut. Jika dimuntahkan, Bunda membentaknya dan memberikan ancaman yang merugikan untuknya.

Bahayanya, kebiasaan ini mudah menimbulkan terjadinya aspirasi makanan atau tersedak akibat makanan masuk ke saluran yang salah. Selain itu, bisa menjadi sesuatu yang fatal jika anak bayi juga dibiasakan mendapatkan perlakuan seperti itu.

Tips Mencegah Orang Tua Dari Kebiasaan Berbahaya

Tidak jarang, Bunda masih saja kelepasan melakukan kebiasaan yang berbahaya bagi si kecil jika dibiarkan secara jangka panjang.

Untuk itu, Bunda harus melakukan beberapa tips di bawah ini supaya mampu menahan diri dari kebiasaan yang tidak diinginkan:

  • Bersikap sabar dan tanamkan mindset bahwa orang tua harus mengayomi anak-anaknya. Jangan terlalu cepat menghukum anak hanya karena tidak sabaran.
  • Pelajari dan pahami asupan nutrisi atau gizi seimbang yang harus diperoleh si kecil dalam masa pertumbuhannya supaya tidak membiasakan pemberian makanan tidak sehat.
  • Mampu mengelola emosi dan tidak membiarkan si kecil merasakan ketakutan, terutama saat menjalani kehidupannya.
  • Hentikan kebiasaan buruk yang mampu meninggalkan dampak buruk bagi anak maupun anggota keluarga lainnya, seperti minum alkohol dan merokok.
  • Bergurau dengan batasan yang jelas. Membuat anak-anak tertawa memang mebantunya lebih sehat, namun jika berlebihan bisa berakibat fatal dan hanya membawa kerugian bagi semua pihak.
  • Dampingi anak-anak ketika mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Ia memang perlu belajar banyak hal baru, namun perlu diingat untuk mengawasinya supaya merasa aman dan tidak terjebak pada situasi berbahaya.

 

Kebiasaan yang tidak disangka memberikan kebaikan bagi anak, ternyata bisa memengaruhi kehidupan buah hati dengan cara yang kurang baik atau kurang benar.

Untuk itu, Bunda harus senantiasa menyiapkan dan membekali diri bersama Ayah ketika memberikan asuhan kepada anak-anak yang sedang bertumbuh besar setiap hari. Pilah-pilah dan pilih gaya kebiasaan positif yang cocok dan berdampak luar biasa bagi masa depannya.

Baca juga Rekomendasi Buku-Buku Parenting Terbaik untuk Panduan Mengasuh Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *