Tips Merencanakan Kehamilan Diatas Usia 35 Tahun Secara Aman

4 bulan lalu, by duniabunda

Kehamilan diatas usia 35 tahun

Apakah saat ini Bunda sedang mengusahakan momongan pertama di usia 35 tahun ini? Atau sedang mengusahakan untuk hamil kembali anak kedua dan seterusnya? Tak perlu khawatir Bunda, inilah tips-tips dan hal yang perlu di perhatikan dalam merencanakan kehamilan diatas usia 35 tahun secara aman dan tepat.

Usia Bunda nyatanya bukan sebuah penghalang untuk mendapatkan momongan yang tumbuh dengan cerdas dan sehat.

Dikutip dari verywellfamily.com, kehamilan diatas usia 35 tahun atau kehamilan geriatri bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

Apabila saat ini Bunda akan merencanakan atau sedang berada dalam posisi kehamilan, ada baiknya untuk memperhatikan beberapa risiko dan hal-hal penting yang harus dilakukan supaya perjalanan si kecil di dalam kandungan dapat berlangsung secara optimal.

Risiko Kehamilan Dengan Usia di Atas 35 Tahun

Semakin bertambahnya usia, maka semakin berkurang usia kesuburan dan kemampuan ovarium untuk memproduksi sel telur. Apabila Bunda telah mengandung pada usia 35 tahun atau ke atas, Bunda harus ekstra hati hati dalam menjaga si kecil di dalam perut dengan baik.

Bunda harus paham serta tanggap untuk menjaga kesehatan diri dan janin untuk menghindari beberapa risiko kesehatan yang mungkin terjadi.

1. Risiko kelainan genetik

resiko kehamilan diatas usia 35 tahun

resiko kehamilan diatas usia 35 tahun

Dilansir dari medicalnewstoday.com, risiko munculnya penyakit genetik tertentu ikut meningkat seiring bertambahnya usia Bunda, contohnya adalah Down Syndrome.

Apabila Bunda berusia 35 tahun atau ke atas, risiko melahirkan anak dengan kelainan bawaan ditandai dengan jumlah kromosom yang mencapai titik abnormal.

Rekombinasi merupakan sebuah proses di mana pasangan kromoson bertukar bahan genetik sebelum berpisah.

Pada Bunda dengan usia yang lebih tua, proses rekombinasi ini terjadi secara tidak teratur, sehingga menimbulkan jumlah kromosom yang abnormal hingga pengacakan aturan dalam skala yang cukup besar. Hal inilah yang menyebabkan risiko kelainan genetik pada kehamilan usia tua cenderung meningkat.

2. Diabetes gestasional

Merupakan salah satu jenis diabetes yang dialami oleh ibu hamil. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kinerja hormon insulin yang tidak seperti biasanya ketika mengandung.

Dilansir dari niddk.nih.gov, diabetes gestasional bisa terjadi akibat tubuh Bunda tidak bisa memproduksi insulin tambahan yang dibutuhkan selama kehamilan.

Ketika berat badan mulai mengalami kenaikan, Bunda akan mengalami sebuah keadaan yang disebut resistensi insulin.

Beberapa wanita mungkin mampu memproduksi insulin yang mencukupi kebutuhan. Namun, wanita yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut mudah terkena diabetes gestasional.

Diabetes gestasional bisa terjadi karena faktor obesitas dan penambahan berat badan secara signifikan. Selain itu, penyakit ini juga bisa dialami berdasarkan riwayat keluarga, sehingga bersifat genetik atau menurun.

3. Hipertensi gestasional

Merupakan salah satu risiko kehamilan diatas usia 35 tahun akibat tekanan darah tinggi yang mengurangi kemampuan suplai darah menuju plasenta.

Umumnya, kondisi ini terjadi setelah kandungan menginjak usia 20 minggu. Tenaga kesehatan akan mendiagnosis Bunda dengan diabetes gestasional setelah memeriksa tekanan darah dan kadar urine.

Pemeriksaan lain yang biasa dilakukan, yaitu fungsi pembekuan ginjal dan darah, pemindaian USG untuk memeriksa janin, serta Doppler Scan untuk mengukur tingkat efisiensi aliran darah ke plasenta.

4. Bayi Berat Lahir Rendah dan Prematur

Menurut marchofdimes.org, bayi prematur biasanya lahir setelah dikandung dalam kurun waktu kurang dari 37 minggu. Bunda yang berusia di atas 35 tahun rentan melahirkan secara prematur akibat beberapa masalah medis yang harus ditangani.

Umumnya, bayi prematur memiliki berat badan yang rendah, sehingga dikategorikan BBLR karena pertumbuhannya yang belum mencapai sempurna.

BBLR sendiri dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Low Birth Weight dengan berat 1,5 sampai 2,49 Kilogram
  • Very Low Birth Weight dengan berat badan 1-1,49 Kilogram
  • Extremely Low Birth Weight dengan berat kurang dari 1 Kilogram

Bunda harus siap merawat si kecil dengan BBLR secara maksimal untuk mengurangi peluang terjadinya masalah kesehatan di kemudian hari.

5. Melahirkan dengan operasi Caesar

melahirkan dengan operasi caesar

peluang untuk melahirkan dengan operasi caesar lebih besar

Pada persalinan secara normal, perlu ada kesiapan yang maksimal secara fisik maupun mental. Sedangkan, pada kehamilan diatas usia 35 tahun kondisinya sudah tidak terlalu optimal seperti Bunda yang berusia di bawah 35 tahun.

Semakin tua usianya, maka risiko komplikasi pada ibu hamil juga semakin tinggi. Untuk mengurangi risiko hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya Bunda mengambil persalinan lewat operasi Caesar.

Operasi Caesar dilakukan dengan mengeluarkan bayi melalui irisan yang dilakukan pada perut hingga rahim. Dokter kandungan akan membantu prosedur operasi supaya bayi dapat keluar dengan selamat.

6. Pre eklampsia

Kondisi ini juga disebut dengan toksemia gravidarum. Merupakan salah satu kondisi meningkatnya tekanan darah atau hipertensi, namun bersamaan dengan meningkatnya kadar protein di dalam urine.

Menurut healthline.com, beberapa faktor risiko kehamilan bisa meningkatkan peluang terjadinya pre eklampsia, yaitu:

  • Kehamilan diatas usia 35 tahun
  • Kehamilan bayi kembar
  • Kehamilan pertama kali
  • Kehamilan usia remaja

Beberapa gejala dari pre eklampsia, antara lain:

  • Sakit kepala
  • Pembengkakan tidak wajar pada area wajah dan tangan
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba
  • Nyeri pada perut kanan atas
  • Penglihatan yang sedikit terganggu

7. Keguguran janin

Risiko yang satu ini cenderung berat dan bisa terjadi ketika Bunda mengalami kondisi medis yang berat. Semakin bertambahnya usia, Bunda harus berhati-hati ketika mengandung supaya keguguran dapat dicegah.

Selain itu, keguguran juga bisa disebabkan kelainan kromosom, diabetes, atau kelainan tekanan darah. Masalah pertumbuhan mudah terjadi dan rawan pada trimester pertama kehamilan.

Namun, keguguran itu bukan sepenuhnya salah Bunda karena ada faktor lain yang bisa jadi mendukungnya, yaitu sel telur, sperma, atau janin itu sendiri.

Menghadapi Kehamilan Pada Usia Di Atas 35 Tahun

Tidak perlu khawatir dan takut dengan risiko yang ada. Bunda harus tetap fokus memberikan asupan bergizi serta melakukan hal-hal pendukung lainnya supaya si kecil tetap lahir dengan sehat.

1. Memeriksakan kehamilan secara rutin

ibu hamil mengontrol kehamilan

ibu hamil wajib mengontrol kehamilan secara rutin

Setidaknya, Bunda melakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali selama kehamilan.

Dilansir dari healthline.com, pemeriksaan atau prenatal screening secara rutin akan membantu Bunda memahami kondisi kesehatan yang mungkin bisa memengaruhi Bunda, janin, atau kehamilan.

Salah satu contohnya adalah pemeriksaan toleransi glukosa untuk mengecek adanya diabetes gestasional supaya kondisi tersebut lebih terkontrol dan dapat diatasi.

Ibu hamil yang mengandung janin dengan risiko lebih tinggi memang harus mendapatkan screening tambahan supaya deteksi dapat dilakukan secara dini.

Perkembangan, pertumbuhan, serta risiko genetik dapat dideteksi sejak awal melalui pemeriksaan yang terjadwal dan tidak dilewatkan. Bunda bisa mengikuti perkembangannya secara rutin sekaligus memperhatikan anatomi si kecil di dalam perut.

2. Asupan makan bergizi itu penting

Ibu hamil memang tidak jauh dari asupan makanan yang kaya gizi dan bernutrisi untuk Bunda sekaligus bayinya sendiri.

Bunda harus memperhatikan dan menyiapkan bahan makanan yang terhitung penting dalam mendukung perkembangan serta kesehatan janin.

Protein dan karbohidrat merupakan asupan utama yang harus rajin dikonsumsi oleh ibu hamil. Beragam bahan makanan tersebut, antara lain talas, sukun, singkong, telur, hingga susu untuk ibu hamil dan kacang-kacangan.

Jangan lupa menambahkan vitamin dan mineral secara lengkap. Meskipun jumlahnya sedikit, nyatanya senyawa vitamin dan mineral juga penting untuk membantu perkembangan janin.

Mengingat kehamilan yang berisiko, Bunda juga harus menentukan takaran yang pas dan tidak berlebihan untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan si kecil secara optimal.

3. Mengontrol kenaikan berat badan

mengontrol berat badan saat kehamilan

mengontrol berat badan saat kehamilan

Dilansir dari acog.org, obesitas selama kehamilan hanya akan meningkatkan terjadinya risiko kehamilan, seperti pre eklampsia hingga diabetes gestasional atau hipertensi gestasional.

Bunda harus berkonsultasi dengan dokter secara lebih lanjut supaya kenaikan berat badan selama kehamilan dapat terkontrol dengan baik.

Semakin besar berat badan Bunda sebelum kehamilan, maka semakin sedikit kenaikan berat badan yang dianjurkan. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil berat badan sebelum mengandung, semakin banyak berat badan yang harus dicapai selama kehamilan.

Manfaatkan kesempatan diet dengan baik menggunakan asupan nutrisi yang seimbang setiap hari. Jangan sampai terlalu berlebihan atau kekurangan zat makanan yang diperlukan.

Perlu diingat, Bunda bisa melakukan kontrol rutin kepada tenaga kesehatan yang sudah ahli di bidangnya.

4. Menghindari penyebab stres

Rasa cemas, takut, dan stres umum dialami oleh ibu hamil ketika terlalu memikirkan kondisi kandungannya, terutama untuk Bunda yang hamil di atas usia 35 tahun.

Terlalu banyak faktor risiko yang harus diketahui dan diwaspadai tentu tidak bisa membuat Bunda terlalu tenang begitu saja. Bunda merasa kebingungan dan takut melakukan kesalahan yang bisa berdampak pada janin selama kehamilan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Bunda bisa mengomunikasikannya kepada suami, keluarga, atau orang terdekat lainnya. Setidaknya, Bunda bisa mendapatkan ketenangan ketika panic secara tiba-tiba.

Apabila memungkinkan, berbagilah juga kepada dokter ketika Bunda memeriksakan kandungan yang terjadwal. Tenaga kesehatan atau medis bisa memberikan saran tambahan supaya Bunda bisa menjalani setiap trimester kehamilan secara maksimal.

5. Berolahraga secara teratur

ibu hamil rutin berolahraga

Ibu hamil rutin melakukan olahraga yang aman secara teratur

Mempersiapkan kehamilan dan persalinan secara optimal tidak hanya melalui kondisi mental yang baik saja. Bunda harus mendorong fisik yang sehat dan bugar supaya nantinya kelahiran dapat berjalan dengan lancar.

Kegiatan olahraga untuk ibu hamil yang dilakukan secara teratur bisa membantu mengontrol berat badan selama kehamilan, mengurangi terjadinya stres, sekaligus membantu tubuh menjadi lebih kuat. Bunda bisa melakukan persalinan, baik normal maupun operasi dengan fisik yang lebih matang.

Meskipun sudah berusia di atas 35 tahun, kesehatan fisik masih menjadi hal yang penting dan harus diperoleh semua ibu yang mengandung.

Bunda bisa melakukannya secara mandiri atau dengan bantuan instruktur senam melalui kelas ibu hamil.

Lakukan gerakan-gerakan yang tidak menyusahkan ketika harus beraktivitas secara mandiri. Apabila ada instruktur, ikuti seluruh kegiatan dengan benar supaya tidak terjadi kesalahan yang berdampak buruk pada kandungan.

6. Hindari rokok dan minuman beralkohol

Kebiasaan yang berdampak buruk bagi kesehatan Bunda akan memberikan umpan yang sama untuk kesehatan janin.

Dilansir dari parents.com, merokok memberikan risiko dua kali lebih besar dalam mendukung bayi dengan BBLR. Bahkan, apabila dibiarkan bisa menyebabkan keguguran atau kematian janin dalam kandungan.

Selain itu, minuman beralkohol mampu memberikan efek samping yang tidak kalah merugikan, yaitu keterlambatan perkembangan mental dan fisik pada bayi yang baru lahir.

Supaya hal-hal tersebut tidak terjadi pada Bunda dengan kehamilan diatas usia 35 tahun, sebaiknya hindari dan tinggalkan konsumsi rokok atau alkohol.

Kebiasaan yang sehat justru akan berdampak baik bagi perkembangan bayi di masa depan.

 

Kehamilan diatas usia 35 tahun bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun, melihat beberapa risiko yang tinggi pada Bunda dengan rentang usia tersebut, jaga kehamilan secara maksimal untuk menghasilkan outcome yang optimal.

Perhatikan hal-hal penting yang harus dilakukan dan dihindari selama kehamilan supaya kesehatan Bunda dan bayi tetap terjaga hingga persalinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *