Penyebab Keputihan Pada Ibu Hamil dan Cara Mengatasinya

1 bulan lalu, by duniabunda

keputihan pada ibu hamil

Pernahkah Bunda mengalami keputihan? Hampir semua perempuan tentu pernah mengalaminya dan apabila tidak menunjukkan tanda-tanda yang tidak wajar, maka hal tersebut adalah aman. Keputihan saat hamil bisa jadi pernah Bunda alami. Namun, apakah keputihan pada ibu hamil merupakan sesuatu yang wajar?

Dikutip dari healthline.com, keputihan adalah sebuah keadaan keluarnya cairan dari vagina dan bervariasi dari perempuan ke perempuan.

Konsistensi dan bentuknya dapat berubah melalui beberapa faktor, yaitu siklus menstruasi, hormon, kehamilan, atau infeksi.

Bunda tidak perlu khawatir berlebihan apabila keputihan tersebut sudah nampak wajar. Apabila tergolong abnormal, tentu Bunda harus segera pergi berkonsultasi dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan sejenis.

Kami akan memberikan wawasan seputar keputihan pada ibu hamil. Bunda bisa simak penjelasan di bawah ini, ya!

Keputihan Saat Hamil

Keputihan pada ibu hamil adalah sesuatu yang normal. Bunda akan sering mengalaminya di trimester awal kehamilan.

Keputihan ini disebut leukorrhea yang berfungsi untuk

  • menghasilkan lendir,
  • membersihkan vagina dari sel-sel mati,
  • melindungi saluran serviks dari infeksi, serta
  • menyeimbangkan kadar bakteri pada vagina

Seiring berjalannya waktu, keputihan ini akan bertambah banyak dan akan bekerja sebagai pelumas yang memudahkan jalan persalinan.

Dilansir dari whattoexpect.com, leucorrhea mirip dengan keputihan pada saat menstruasi, hanya saja lebih berat dan banyak.

Lalu, bagaimana ya ciri-ciri keputihan normal saat hamil?

Umumnya, keputihan normal saat hamil ditandai dengan cairan yang memiliki bentuk tipis, aromanya ringan, dan warnanya cenderung putih susu. Keadaan ini tentu akan muncul sesaat setelah Bunda benar-benar mengandung.

Biasanya, Bunda bisa kebingungan membedakan keputihan dengan air seni saat teksturnya menjadi agak cair.

Penyebab Keputihan Saat Hamil

Vagina yang sehat akan melakukan berbagai upaya untuk membersihkan dan melindungi diri, terutama dalam masa kehamilan.

Keadaan tersebut disebabkan oleh meningkatnya estrogen dan aliran darah menuju vagina. Aliran darah yang meningkat dan semakin lancar akan menstimulasi mukosa membran pada tubuh untuk melunakkan permukaan vagina.

Dinding rahim dan leher vagina menjadi lembut akibat aliran darah tersebut. Kondisi ini akan mendorong vagina mengeluarkan lender atau cairan yang disebut keputihan.

Cairan ini akan mempertahankan stabilitas vagina agar tidak terdampak bakteri atau virus dari luar yang berpotensi membahayakan nyawa si kecil dalam kandungan.

Dikutip dari nhs.uk, ketika Bunda sudah memasuki trimester tiga dan mendekati akhir kehamilan, kepala bayi yang akan lahir menekan dinding lahir untuk mengeluarkan cairan keputihan dengan takaran lebih banyak.

Bagaimana Dengan Keputihan Abnormal?

Meskipun keputihan adalah sesuatu yang wajar terjadi pada ibu hamil, masih ada kemungkinan keputihan abnormal pada kehamilan.

Biasanya, keputihan abnormal akan memberikan sinyal berupa penampakan warna untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak beres pada daerah kewanitaan Bunda. Entah itu karena infeksi atau luka yang diakibatkan unsur ketidaksengajaan.

Dilansir dari medicalnewstoday.com, berikut adalah indikasi dan penampakan keputihan pada ibu hamil berdasarkan warnanya

1. Bening atau putih susu

Warna keputihan bening atau putih susu adalah keputihan yang normal dan wajar terjadi pada setiap perempuan, termasuk ibu hamil.

2. Putih, namun kental

Keputihan ini menyerupai cottage cheese untuk memberikan pertanda adanya infeksi jamur pada ibu hamil. Gejala yang biasanya dirasakan adalah gatal, rasa terbakar di area vagina, dan terasa sakit saat buang air kecil atau melakukan hubungan seksual.

3. Kuning atau hijau

Termasuk dalam keputihan yang tidak sehat dan menandakan adanya Sexually Transmitted Infection atau STI, seperti trichomoniasis dan chlamydia.

Kondisi ini akan berdampak pada komplikasi ibu hamil yang infertil dan janin yang memiliki masalah pada sistem saraf serta perkembangan.

4. Abu-abu

Keputihan abu-abu dan berbau amis mengindikasikan infeksi vagina berupa bacterial vaginosis. Kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan vagina yang disebabkan oleh terlalu sering berganti pasangan saat berhubungan seksual.

5. Coklat

Keputihan berwarna coklat menunjukkan gejala awal kehamilan lewat darah lama yang keluar dari tubuh. Apabila memang nampak warna coklat yang terlalu banyak, Bunda bisa periksakan ke dokter.

6. Pink atau merah muda

Bisa jadi pertanda akan sesuatu yang tidak normal. Keputihan merah muda biasanya terjadi pada awal atau akhir kehamilan. Bisa juga sebagai tanda kehamilan ektopik atau keguguran.

7. Merah

Bunda harus segera berkonsultasi dengan dokter ketika keluar keputihan warna merah dari vagina. Apalagi, bila disertai dengan gumpalan, hingga rasa nyeri perut atau kram. Tentu keputihan jenis ini sudah bersifat darurat dan harus segera ditangani.

Warna-warna keputihan abnormal di atas biasanya juga disertai dengan beberapa gejala sebagai berikut

  • Cairan yang sangat berat dan tebal
  • Bau amis dan tidak sedap
  • Rasa gatal, perih, hingga terbakar pada area kewanitaan

Jangan sampai lengah, ya Bun supaya penanganannya tidak terlalu lama. Lalu, tahukah Bunda apa saja cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi maupun mencegah keputihan selama masa kehamilan?

Cara Mengatasi Keputihan Tidak Normal Saat Hamil

mencegah keputihan dengan rajin mencuci tangan

mencegah keputihan dengan rajin mencuci tangan

Apabila sudah mengalami keputihan abnormal dan berkonsultasi dengan dokter, Bunda juga perlu mengikuti beberapa cara berikut untuk mengatasi kondisi kewanitaan yang tidak beres

1. Mengatasi infeksi jamur

Infeksi jamur biasanya sangat mengganggu dengan menyebabkan iritasi, namun keberadaannya tidak membahayakan janin. Beberapa cara untuk mengatasinya, yaitu

  • Membiarkan kulit bernafas dengan mengenakan pakaian longgar atau tidak ketat dan berbahan katun.
  • Mengeringkan area vagina dengan benar setelah mandi, berolahraga, atau berenang supaya tidak lembap.
  • Konsumsi bahan makanan atau minuman berfermentasi untuk menjaga bakteri baik dalam tubuh. Bakteri baik akan bekerja secara maksimal untuk melindungi keseimbangan vagina.

2. Mencuci tangan sebelum menyentuh area kewanitaan

Sebelum membersihkan area vagina, sebaiknya Bunda memastikan dahulu apakah kedua tangan sudah benar-benar bersih. Hal ini dilakukan supaya tidak ada lagi bakteri, jamur, atau virus yang masuk area vagina dengan mudah.

3. Membilas vagina dari depan ke belakang

Bunda wajib menggunakan air bersih untuk membilas vagina setelah buang air besar maupun kecil. Tidak perlu mengaplikasikan pembersih vagina karena vagina sudah memiliki mekanisme tersendiri untuk membersihkan diri.

4. Hindari tisu vagina dan vaginal douche

Penggunaan dua produk ini hanya akan menyebabkan ketidakseimbangan pH pada vagina dan rentan menimbulkan iritasi.

Dikutip dari whattoexpect.com, vaginal douche cenderung tidak aman bagi kehamilan dan sebisa mungkin dihindari. Kondisi ini akan memengaruhi terjadinya bacterial vaginosis.

5. Rutin mengganti pakaian dalam

Keputihan yang cenderung banyak akan menuntut Bunda untuk wajib menjaga kebersihan. Bunda harus rajin mengganti pakaian dalam dan pantyliner setiap beberapa jam sekali agar tidak meninggalkan jamur pada area intim.

6. Konsumsi obat yang sudah diresepkan oleh dokter

Resep obat khusus dibuat untuk mengatasi keputihan yang bersifat patologis atau penyakit pada kehamilan. Jangan lupa untuk mengonsumsinya secara rutin supaya Bunda dapat kembali merasakan keputihan yang wajar atau normal.

Cara Mencegah Keputihan Saat Hamil

Salah satu cara untuk mencegah dan meminimalisir peluang terjadinya keputihan abnormal adalah dengan menjaga kebersihan area kewanitaan. Apa saja yang harus Bunda lakukan untuk menjaganya, terutama ketika hamil?

1. Tidak menggunakan pantyliner setiap hari

Lebih baik Bunda menggunakan pantyliner sesekali untuk mencegah terjadinya iritasi. Bunda bisa menggunakan alternatif mengganti pakaian dalam saja secara rutin.

2. Penggunaan deterjen tanpa pewangi

Saat mencuci pakaian dalam, lebih baik manfaatkan deterjen tanpa pewangi dan bilas sampai benar-benar bersih. Pewangi tersebut bisa saja menempel pada kain pakaian dalam dan mengeluarkan bahan kimia yang kurang bagus untuk vagina.

3. Mencuci tangan saat bersentuhan dengan area vagina

Bunda perlu rajin mencuci dan membilas tangan dengan benar sebelum maupun sesudah menyentuh kemaluan. Kedua tangan harus steril karena akan berinteraksi dengan area yang sensitif dan berisiko. Jangan biarkan bakteri masuk ke dalam area intim Bunda yang terjaga dengan sehat.

4. Bahan pakaian yang longgar dan berbahan katun

Seluruh jenis pakaian yang Bunda kenakan, baik atasan, celana, hingga pakaian dalam harus bersifat longgar. Kulit akan mudah bernafas dan tidak gatal-gatal. Bahan katun akan menyerap keringat secara maksimal untuk menghindari terjadinya iritasi.

5. Bilas kemaluan dari depan ke belakang

Teknik membilas kemaluan ini akan menghindari bakteri pada anus mudah berpindah ke vagina. Selalu bilas area kemaluan dengan air mengalir sampai bersih. Sebisa mungkin, Bunda hindari pemakaian sabun dengan wewangian.

6. Konsumsi makanan yang baik untuk pencernaan

Jenis makanan yang dapat Bunda konsumsi adalah makanan kaya probiotik. Keberadaan probiotik dalam tubuh akan membantu menjaga keseimbangan bakteri baik yang sehat bagi vagina.Contoh makanan dan minuman dengan probiotik adalah yogurt, acar, tempe, hingga kimchi.

Selalu jaga asupan yang aman dan sehat untuk kehamilan ya ,bun.

7. Hindari tampon

Tampon hanya akan menyebabkan kuman masuk ke dalam vagina. Penyerapan bakteri yang dilakukan tampon hanya akan menumbuhkan bakteri yang lebih berbahaya.

8. Menghindari cairan antiseptik dan sabun dengan pewangi

Kandungan bahan kimia dalam cairan antiseptik maupun sabun dengan wangi cenderung lebih tinggi. Bahan kimia yang bersifat toksik untuk ibu hamil akan mengganggu kesehatan Bunda dengan janin. Jika ingin menggunakan sabun, Bunda bisa memakai sabun non-fragrance sebagai penggantinya.

9. Vagina harus dilumasi dengan benar

Sebelum berhubungan seksual, pastikan Bunda melumasi area intim terlebih dahulu dengan bahan-bahan yang alami maupun aman. Hal ini bertujuan untuk menghindari iritasi yang akan menyebabkan luka. Penggunaan bahan berbahaya akan berdampak negatif bagi area vagina pada ibu hamil.

10. Berhenti merokok

Kebiasaan merokok hanya akan memberikan peluang besar terjadi infeksi pada vagina, ditambah dengan Bunda yang sedang mengandung. Rokok bersifat racun dan toksik bagi janin, sehingga akan menyebabkan gangguan yang mengancam nyawa si kecil.

Bagaimana, Bun? Sudah Mengerti Tentang Keputihan Saat Hamil?

Keputihan pada ibu hamil tentu merupakan sesuatu yang normal. Bunda hanya cukup memperhatikan kebersihan area intim dengan baik supaya tidak ada kuman yang menyerang.

Gunakan pakaian yang longgar supaya pertukaran udara berjalan lancar.Hindari penggunaan produk-produk yang membawa dampak negatif bagi kesehatan Bunda dan janin.

Tetap tenang apabila harus menghadapi keputihan, sebagai sesuatu yang normal, kondisi tersebut tentu akan mempertahankan keseimbangan tubuh.

Dukungan keluarga juga menjadi nilai tambah untuk membantu Bunda mengatasi kondisi yang sedikit mengganggu selama kehamilan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *