Kakak Beradik Sering Bertengkar? Ini Solusinya Lho Bun!

1 bulan lalu, by duniabunda

mengatasi kakak beradik yang bertengkar

Bagi Bunda yang memiliki anak lebih dari satu, tentu sudah tidak asing ketika antar bersaudara sering bertengkar karena hal-hal yang sepele. Mengatasi kakak beradik yang sering bertengkar tidak selalu mudah. Terkadang, Bunda malah ikut-ikut pusing ketika mendengar mereka beradu argumen.

Belum lagi kalau kakak beradik bertengkar hampir setiap hari dan bisa berlangsung sampai beberapa lama. Apa tidak merepotkan, Bun?

Namun, alangkah lebih baik apabila Bunda mengetahui penyebab pertengkaran mereka kemudian memberikan penyelesaian yang cocok atas permasalahan yang sudah terjadi.

Penyebab Kakak Beradik Sering Bertengkar

Dikutip dari kidshealth.org, berikut beberapa alasan yang sering ditemui mengapa kakak beradik sering bertengkar di rumah.

1. Kebutuhan yang berkembang

Identitas dan kecemasan seorang anak akan mempengaruhi interaksinya dengan teman di sekitarnya. Misalnya, anak balita yang secara alami bersikap protektif terhadap barang-barang atau mainan miliknya sendiri.

Kakaknya datang kemudian mengambil mainan tersebut secara paksa, tentu sang adik langsung tidak terima dan melampiaskan kemarahan dengan meneriaki sang kakak.

Kakak beradik dengan jarak umur lumayan jauh tentu akan merasakan kesenjangan yang sangat terlihat ketika mereka berinteraksi sehari-hari. Di satu sisi, kakak berusia remaja merasa sudah memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mengayomi sang adik.

Sedangkan, adik yang masih berusia anak-anak cenderung masih bebas dan tidak ingin terikat maupun diatur terlalu banyak. Kondisi ini menyebabkan kakak beradik masih sering bertengkar dalam keseharian mereka, baik bermain atau belajar.

2. Temperamen individu

Temperamen anak-anak Bunda mencakup mood, watak, dan kemampuan beradaptasi. Dilengkapi juga dengan kepribadian yang unik bagaimana mereka bermain peran dan menyesuaikan lingkungan sekitar.

Salah satu harus ada yang mudah mengalah. Namun, apabila ditemui anak-anak yang tidak suka mengalah dan ingin menunjukkan bahwa dirinya yang paling benar, maka sangat memungkinkan terjadinya perkelahian.

Apalagi jika keduanya saling menunjukkan sikap emosi apabila tidak diperhatikan oleh Bunda atau Ayah saat sedang berkumpul bersama. Mereka akan beradu dan ingin memenangkan hati orang tua.

3. Menirukan orang yang lebih tua

Saat berkumpul di rumah, anak-anak pasti melihat secara langsung orang tuanya meluapkan emosi kepada satu sama lain. Ayah dan Bunda yang saling membentak dan akhirnya bertengkar di depan anak-anak.

Informasi semacam ini mudah direkam di dalam ingatan anak-anak untuk bertindak menggunakan sikap yang sama seperti orang tua.

Apabila orang tua suka melakukan hal-hal negatif ketika bertengkar, seperti membanting pintu hingga berteriak dengan keras, mereka akan mengadopsi kebiasaan tersebut untuk menyulut permasalahan menjadi lebih besar ketika bertengkar dengan kakak atau adik.

Apabila mereka diganggu oleh saudaranya, muncul perasaan marah dan emosi untuk membalas perlakuan yang diberikan. Ternyata hal ini perlu diperhatikan dengan lebih baik, bukan?

 

Selain tiga alasan kuat yang melatarbelakangi betapa seringnya kakak adik bertengkar, Bunda terkadang melihat bahwa pertengkaran di awali dengan perdebatan dan pembelaan masing-masing akan suatu hal. Mereka tidak saling menerima dan malah membalas pernyataan satu sama lain.

Wah, gimana ya solusinya?

Solusi Mengatasi Kakak Beradik yang Sering Bertengkar

melerai kakak beradik yang bertengkar

orang tua wajib melerai kakak beradik yang bertengkar

Tidak perlu pusing-pusing lagi, Bun. Ada banyak cara yang bisa diterapkan untuk mengubah kebiasaan buruk antar kakak adik tersebut. Mereka jadi lebih rukun, akrab, dan saling memahami satu sama lain.

1. Jangan emosi duluan, ya Bun!

Ketika mulai melihat kakak dan adik bertengkar, sebaiknya Bunda tidak langsung terpacu dengan emosi dan meledak dengan membentak kedua anak Bunda.

Kondisi seperti ini harus bisa dihadapi dengan kepala dingin dan tidak tergesa-gesa. Bisa jadi mereka akan salah paham, ditambah dengan Bunda yang membela salah satu pihak dari kakak atau adik.

Keadaan condong ini malah menimbulkan rasa cemburu, akhirnya Bunda malah terseret ke dalam masalah yang diributkan oleh anak-anak.

Salah satu cara mengantisipasi emosi yang tidak bisa Bunda bendung lagi adalah dengan memperhatikan alur pertengkaran kakak adik sejenak secara netral, tanpa ada kecondongan kepada salah satu pihak.

Biasanya, pertengkaran yang bersifat sepele atau ringan malah cepat diselesaikan di antara mereka. Namun, apabila masalah sudah terlalu besar untuk diatasi dan malah semakin berkelanjutan, campur tangan Bunda diperlukan tanpa adanya rasa emosi karena sangat terganggu.

2. Simak, tangani, dan jangan hanya jadi penonton

Mengatasi kakak beradik ketika bertengkar salah satunya adalah dengan mengusahakan untuk tidak menjadi penonton ketika memang melihat situasi anak-anak yang bertengkar dan berbalasan argumen satu sama lain.

Seringkali, kakak beradik yang bertengkar disebabkan oleh mencari perhatian di depan Bunda atau Ayah. Pertengkaran yang hanya disimak oleh Bunda tanpa ada gerakan untuk melerai malah berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

Apabila pertengkaran cukup ringan, Bunda bisa menghindar sampai mereka menemukan solusi sendiri untuk menyelesaikan masalah yang diperdebatkan.

Kalau masalah terus membesar dan tidak ada yang mau mengalah untuk mempertahankan pendapatnya sendiri tanpa mendengarkan satu sama lain, sebaiknya Bunda mulai bertindak supaya tidak semakin berlarut-larut.

Tetap diingat, ya Bun ketika sudah berhadapan dengan anak-anak yang bertengkar berusahalah bersikap tenang dan menahan amarah yang sifatnya negatif.

3. Ajarkan mereka untuk memecahkan masalah melalui diskusi

Dilansir dari verywellfamily, anak-anak yang masih kecil juga sudah memahami dasar dari keadilan dan penyelesaian masalah tidak harus dilalui dengan pertengkaran.

Bunda bisa mengajarkan dan menanamkan mindset mengenai apa saja yang tidak boleh maupun boleh dilakukan ketika menyelesaikan masalah atau perdebatan yang memicu pertengkaran.

Contohnya, pelampiasan negatif seperti berteriak, memukul, atau menangis bukanlah sebuah bentuk pemecahan masalah yang tidak ada manfaatnya. Kakak dan adik hanya akan menyimpan dendam tanpa ada solusi yang jelas.

Dengan membiasakan problem solving dalam bentuk diskusi, mereka akan membangun kesadaran bahwa pertengkaran adalah hal yang sia-sia. Kakak beradik ini juga semakin kritis apabila ada sesuatu yang mengganjal dan ingin disampaikan dengan cara yang benar.

Berdiskusi dan bertukar pendapat sesering mungkin akan mengatasi masalah pertengkaran yang sering terjadi di antara kakak dan adik.

4. Mainkan peran orang tua secara positif

Pada bagian penyebab sudah dijelaskan bahwa anak-anak juga sudah bisa menirukan orang tua ketika meluapkan emosi saat marah dan berada di posisi bertengkar dengan saudaranya.

Dikutip dari verywellfamily, orang tua tidak bisa berekspektasi anak-anak tidak akan bertengkar apabila hal yang sama sudah diamati oleh mereka melalui Ayah dan Bunda ketika berseteru.

Orang tua di sini harus bersikap kooperatif dan bisa berjalan beriringan ketika mendidik anak-anaknya. Membuktikan bahwa orang tua juga bisa menyelesaikan masalah dengan pertimbangan yang kritis dan tidak memerlukan kekerasan fisik hingga mental.

Realisasikan ekspektasi yang baik di pikiran anak-anak dengan melakukan tindakan yang positif untuk memecahkan masalah dan mengatasi perbedaan pendapat.

Tetap ingat, anak-anak selalu melihat!

5. Biasakan untuk memujinya saat menyelesaikan kegiatan positif

berdiskusi untuk mengatasi kakak beradik yang bertengkar

memberikan perhatian yang cukup kepada anak

Bunda pasti memberikan porsi yang sama ketika menyayangi dan mendidik seluruh anak-anak. Tidak ada yang dibedakan atau diletakkan pada posisi nomor sekian.

Tunjukkan kasih sayang tersebut sebagai cara yang tepat untuk mendidik kakak adik yang masih sering bertengkar.

Seusai mereka melakukan kegiatan positif dan terpuji, cobalah untuk mengapresiasi efek samping maupun dampak baik yang ingin dicapai oleh anak-anak.

Salah satu kunci dan tujuan utama untuk mengatasi kakak beradik yang suka bertengkar adalah ketika mereka mampu mendapatkan pujian serta perhatian apabila melakukan kegiatan yang positif.

Mendapatkan perhatian dari orang tua bukan dari adu mulut dan mendorong orang tua mendukung pembelaan tersebut.

Mendapatkan perhatian dari Bunda, Ayah, dan keluarga lainnya adalah dengan menunjukkan prestasi yang bisa dicapai satu sama lain.

6. Perlakukan kakak adik setara ketika perkelahian terjadi

Salah satu perangkap yang sering dialami Bunda adalah ketika sudah terlanjur terjerumus ke dalam investigasi mengenai siapa yang memulai pertengkaran lebih dahulu dan apa akar masalahnya.

Sikap ini cenderung membuat Bunda membela salah satu pihak dibandingkan yang satu lagi. Memberikan teguran dan hukuman yang berbeda atau condong meringankan salah satunya malah akan memperburuk suasana.

Kakak yang tidak diperhatikan dan dibela akan menumbuhkan rasa benci, sehingga timbul perasaan ingin meneruskan pertengkaran. Begitu pula sebaliknya, apabila kondisi yang sama juga dirasakan oleh si adik.

Hukuman, peringatan, hingga teguran harus diberikan secara seimbang tidak terkecuali. Hal ini akan mendidik mereka untuk menyadari bahwa pertengkaran adalah kebiasaan yang tidak terpuji.

Tujuannya adalah menghentikan perkelahian dan tidak ada yang kembali memperebutkan kalah atau menang karena kakak beradik memiliki porsi yang sama.

7. Bila perlu, buat aturan tertulis

Selain mengajarkan bahwa nilai-nilai perkelahian merupakan sesuatu yang tidak boleh diterapkan, aturan tertulis akan mendorong timbulnya tanggung jawab pada masing-masing pribadi.

Aturan tertulis secara tidak langsung berfungsi untuk mengatasi kakak beradik bertengkar terlalu sering, sehingga keluarga yang lain jadi pusing dibuatnya.

Tuliskan aturan yang berlaku dan sanksi yang diberikan apabila kakak dan adik melanggar peraturan yang sudah disepakati bersama-sama.

Tuliskan sanksi yang bersifat mendidik dan bukan menyiksa, contohnya merapikan kamar tidur, memotong rumput, mencuci kendaraan di rumah bersama Ayah, atau membantu Bunda berkebun di halaman.

Apabila mereka tidak melanggarnya dan mampu menahan kehendaknya masing-masing, berikan apresiasi untuk menghargai usaha tersebut.

8. Bun, jadilah agen pengalih perhatian

Ketika pertengkaran terjadi karena hal yang sepele atau sifatnya bercanda, coba alihkan kejadian tersebut dengan cara-cara yang tidak terduga.

Ketika kakak mulai mengganggu adik dan mulailah perkelahian, panggil adik untuk melakukan sesuatu sebagai pengalihan.

Apabila sudah saling berpisah, perkelahian bisa berhenti sendiri. Namun, jangan biarkan begitu saja. Bunda bisa mengajak adik berbicara mengenai kejadian yang baru saja dialaminya.

Tidak hanya kepada adik, Bunda juga bisa menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan kakak untuk memberinya pengertian dan mampu mengayomi si adik.

9. Negosiasi adalah pembiasaan penting

Ketika menemui kakak beradik sedang bertengkar di dalam rumah, segera ajak untuk duduk berdampingan dan memulai negosiasi.

Berikan pilihan, apakah masalah ingin diselesaikan sendiri atau dengan bantuan Bunda. Apabila mereka memilih menyelesaikannya sendiri, tetap damping selama pembicaraan berlangsung.

Bunda juga dapat menjadi penengah yang aktif untuk membantu memperjelas pendapat dan keinginan dari masing-masing anak.

Berikan pilihan keputusan yang bersifat netral dan tidak merugikan pihak manapun. Pertengkaran adalah sebuah kesalahpahaman yang harus disikapi dengan baik antara kedua belah pihak.

10. Ajak mereka beraktivitas bersama

Cara yang bisa Bunda coba untuk mengatasi kakak adik yang sering bertengkar adalah dengan mengajak mereka melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama-sama.

Kakak dan adik bisa berkolaborasi untuk melakukan kegiatan yang berbeda dari biasanya atau menciptakan sebuah karya dengan kerja sama.

Hal ini akan membina hubungan batin, kedekatan, dan keeratan yang seharusnya terjalin dengan baik supaya mereka juga bisa saling memahami satu sama lain.

Mereka sadar kapan harus mengalah atau kapan harus menyatakan tidak setuju dalam bentuk yang sopan dan tidak menyinggung. Tumbuh rasa menghargai melalui kegiatan dan waktu yang dihabiskan bersama-sama di dalam maupun di luar rumah.

 

Tunjukkan selalu rasa cinta Bunda kepada kakak beradik yang mungkin memiliki sedikit masalah dalam hal perbedaan sikap dan pendapat. Perbedaan bisa jadi memicu perkelahian. Tugas Bunda adalah senantiasa mendampingi mereka untuk mengatasi masalah secara efektif dan penuh damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *