Penyebab dan Gejala Autisme Pada Anak Serta Cara Mengatasinya

3 minggu lalu, by duniabunda

autisme pada anak dan cara mengatasi

Gejala autisme pada anak akhir-akhir ini sering di temui, terutama gejala yang ringan, salah satunya dapat disebabkan oleh paparan gadget dan kurangnya interaksi sosial pada anak.

Selain itu kesibukan orang tua menyebabkan tidak banyak waktu untuk memperhatikan dan mengurus si kecil sehingga mereka sering tidak menyadari adanya gejala autisme pada buah hati sejak dini. Hal ini biasanya baru disadari setelah si kecil menunjukkan keterlambatan berbicara dan perilaku yang tidak wajar. Penting bagi orang tua untuk selalu memantau perkembangan anak sehingga mengetahui ketika ada gejala autisme sejak dini. Dan melakukan konsultasi agar mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Autisme sendiri adalah gangguan perkembangan baik karena faktor psikologis maupun neurobiologis. Faktor neurobiologis adalah gangguan pada perkembangan otak baik karena adanya infeksi pada susunan saraf pusat maupun karena paparan zat kimia yang dapat terjadi selama masih dalam kandungan.

Gejala-Gejala Autisme Pada Anak

Gejala Autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Gejala autisme biasanya mulai kelihatan sebelum si kecil menginjak usia 3 tahun, jadi sekitar usia 18 bulan sampai 2 tahunan. Gejala akan terlihat semakin jelas ketika si kecil berumur 3-5 tahun.

Nah apa saja gejala-gejala autisme tersebut?

Secara umum gangguan tersebut meliputi gangguan pada interaksi sosial, cara berkomunikasi, emosional serta perilakunya.

1.  Gangguan dalam berkomunikasi

Tanda-tanda awal si kecil biasanya akan mengalami keterlambatan bicara, namun sangat pandai membeo dan menirukan nada dan nyanyian. Selain itu anak sering mengucapkan kata-kata atau bahasa yang tidak dimengerti atau sering disebut bahasa planet. Air mukanya nampak datar tanpa ekspresi dan berbicara hal-hal yang itu saja atau monoton. Dan jika di ajak berkomunikasi seperti tidak mendengarkan seolah-olah tuli, tetapi jika kita mengajaknya berbicara mengenai sesuatu yang disukai olehnya sebaliknya dia akan bereaksi dengan cepat.

2. Gangguan pada interaksi sosial dan pola bermain.

Anak autisme memiliki cara bermain yang monoton dan hanya menunjukkan ketertarikan pada mainan tertentu saja dan tidak mau mencoba mainan yang lain. Umumnya mereka senang dengan sesuatu yang berputar-putar seperti roda dan kipas angin. Anak bisa bermain dengan roda-roda tersebut dalam waktu yang lama.

Selain itu mereka seperti tidak ada keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain bahkan cenderung menghindari teman-teman sebayanya.

Anak sering terlihat seperti memiliki kelekatan pada suatu benda, contohnya sering kedapatan memegang suatu benda seperti pensil, kertas dan lain lain, dan di bawanya kemana-mana.

Mereka memiliki gaya bermain yang tidak wajar seperti mencium-cium dan menjilati bahkan menggigit mainan atau benda disekitarnya.

3. Gangguan pada emosional anak

Anak autisme bisa tiba-tiba tertawa, menangis dan marah-marah tanpa sebab yang pasti. Sangat mudah tantrum dan mengamuk tak terkendali hingga merusak barang, jika tidak mendapatkan hal yang dia inginkan. Selain itu mereka cenderung tidak memiliki rasa empati atau kasihan melihat teman yang sedang sedih atau menangis. Terkadang jika merasa terganggu teman tersebut malah bisa dipukulinya.

Mereka juga sangat tidak suka dipeluk dan tidak mau bertatap muka.

 

Ada baiknya bunda coba mengobservasi terlebih dahulu jika Bunda khawatir ternyata si kecil memiliki gejala tersebut diatas.  Dan jika si kecil ternyata menunjukkan sebagian besar gejala tersebut Bunda bisa segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan sejak dini.

Peranan orang tua dalam mencegah autisme pada anak

Orang tua sebenarnya memiliki peranan yang paling penting dalam pencegahan terjadinya autisme sejak dini terutama pada gejala-gejala yang ringan. Sebagian orang tua terutama yang bekerja jarang meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Ketika pulang kerjapun terkadang masih sibuk mengurus ini itu, si Ayah sibuk melihat HP dan si Ibu sibuk beberes dan bebersih-bersih sehingga tidak meluangkan waktu untuk memperhatikan dan sekedar bercakap-cakap dengan anaknya. Padahal waktu setelah pulang kerja tersebut merupakan kesempatan emas bagi orang tua untuk menjalin kedekatan dengan anak. Tanyakan aktivitas apa yang dia lakukan seharian ini, apakah dia senang atau sedih, ajak dia bermain besama. Jadi perkembangan anak sebenarnya tergantung pada orang tua juga.

Selain itu diwaktu yang sempit setelah pulang kerja sebaiknya orang tua menyempatkan untuk menemani anak bermain, sambil mengajaknya berbicara untuk melatih komunikasinya. Jika sedang berbicara atau memanggil si kecil jangan sambil membuang muka ya Bun. Dan saat Bunda memanggil si kecil dari jauh dan dia tidak menjawab, Bunda jangan buru-buru emosi dan berteriak-teriak, sebaiknya dekati dia, pegang pundak dan tatap mukanya, posisikan badan sejajar dengan si kecil.

Sebaiknya anak jangan dibiarkan bermain sendirian terlalu sering dan terpapar gadget terlalu lama karena hal ini dapat menjadi pencetus autisme ringan. Sering-seringlah bermain dengan si kecil, permainan apa saja entah saling memeluk atau berguling-guling di kasur, bangunlah kedekatan emosional dengannya.

Dan ketika Bunda atau Ayah sendang melihat Hp dan si kecil mengajak berbicara sebaiknya Bunda segera meletakkan Hp dan segera merespon dan mendengarkan dengan seksama. Hindari berbicara dengannya sembari mata tetap tertancap pada layar HP.

Cobalah terapi ini dan lihat hasilnya, mudah-mudahan berangsur-angsur anak mulai bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *