Bagaimana Proses Bayi Tabung? Yuk Cari Tahu Selengkapnya Disini

2 tahun lalu, by duniabunda

proses bayi tabung

Setiap pasangan suami istri yang sudah menikah tentunya sangat mendambakan kehadiran buah hati. Banyak cara yang sudah dilakukan agar segera mendapatkan buah hati, namun tidak jarang Ayah dan Bunda mengalami kendala dalam mendapatkan buah hati. Nah, apabila Ayah dan Bunda termasuk pasangan yang kesulitan mendapatkan buah hati, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah dengan program bayi tabung. Menurut beberapa ahli, metode bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan sebesar 40%, memang tidak cukup tinggi, namun patut untuk dicoba. Masih bingung mengenai program bayi tabung? Simak penjelaskan dari Dunia Bunda ya, karena kali ini kami akan membahas tuntas mengenai bayi tabung, mulai dari proses, hingga hal apa saja yang perlu Ayah dan Bunda persiapkan untuk mengikuti program bayi tabung.

Apa itu bayi tabung?

Bayi tabung pada manusia atau yang dikenal dengan istilah medis in vitro fertilization (IVF) merupakan salah satu pilihan yang bisa Bunda coba untuk mendapatkan buah hati, terutama jika terdapat masalah pada kesuburan.

Contoh bayi tabung pertama yang berhasil

Program bayi tabung dimulai pada tahun 1977 oleh P.C Steptoe dan R.G Edwards yang berhasil mendapatkan buah hati yang diberi nama Louise Brown. Louise Brown lahir di Oldham (Inggris), pada tanggal 25 Juli 1978 sebagai bayi pertama dengan program bayi tabung.

Program bayi tabung dilakukan dengan mengambil sel telur (ovum) yang telah matang dari ovarium, selanjutnya akan digabungkan dengan sel sperma Ayah. Penggabungan sel telur dan sperma dilakukan di luar tubuh Bunda dan diinkubasi selama 3-5 hari. Setelah terjadi pembuahan antara sel telur dan sperma, maka terbentuklah embrio. Selanjutnya, embrio terbaik akan dimasukkan kembali ke rahim Bunda untuk bertumbuh dan berkembang sampai waktu kelahiran.

Apakah perbedaan program bayi tabung dan inseminasi buatan?

Selain program bayi tabung, mungkin Ayah dan Bunda sudah tidak asing lagi dengan istilah inseminasi buatan. Inseminasi buatan atau intrauterine insemination (IUI) juga merupakan salah satu metode untuk mendapatkan keturunan.

Sel sperma unggul Ayah yang telah melalui proses seleksi akan dimasukkan ke dalam rahim Bunda agar terjadi proses pembuahan. Namun, prosedur ini hanya bisa dilakukan pada wanita yang tidak memiliki masalah penyumbatan pada saluran telur (tuba fallopi). Injeksi HCG (Human Chorionic Gonadotropin) juga akan diberikan untuk meningkatkan kesuburan Bunda. HCG merupakan hormon alami yang dibentuk oleh tubuh yang berfungsi membuat sel telur menjadi matang, sehingga siap untuk dibuahi oleh sperma yang dimasukkan ke tubuh Bunda.

Tempat terjadinya pembuahan yang membedakan metode inseminasi buatan dengan metode bayi tabung. Pada inseminasi buatan, pembuahan terjadi di dalam tubuh Bunda, sedangkan pada program bayi tabung pembuahan atau pertemuan sel telur dan sperma dilakukan di luar tubuh Bunda.
Tentunya, penentuan kedua metode ini didasarkan pada masalah yang dialami, contohnya apabila Bunda mengalami penyumbatan pada tuba fallopi atau kualitas sperma Ayah kurang baik untuk terjadinya proses pembuahan, maka metode yang lebih disarankan adalah bayi tabung.

Persiapan untuk Melakukan Proses Bayi Tabung

Program bayi tabung harus ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh pasangan yang akan mengikuti program bayi tabung, yaitu:

1.Pemeriksaan kesehatan

Sebelum memulai program bayi tabung, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kesehatan Ayah dan Bunda. Hal ini harus dilakukan untuk mengetahui faktor yang menghambat terjadinya kehamilan. Sebagai contoh, terdapat tumor atau kista pada rahim akan menurunkan kesempatan untuk hamil, sehingga harus ditangani terlebih dahulu.

Selain memeriksa kesehatan Bunda, kesehatan sel sperma Ayah juga akan diperiksa. Hal ini dilakukan untuk memastikan sperma yang akan digabungkan dengan sel telur adalah sperma unggul dengan kualitas yang baik. Dokter mungkin juga akan menanyakan mengenai siklus menstruasi, frekuensi hubungan suami istri, dan kondisi lingkungan, seperti pekerjaan, aktivitas olahraga, dan kondisi psikis Ayah dan Bunda.

2.Pemberian rangsangan pada ovarium atau indung telur

Rangsangan pada ovarium dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang memicu produksi sel telur. Semakin banyak sel telur yang diproduksi, maka semakin banyak pula sel telur yang dapat diambil oleh dokter, sehingga akan memperbesar kemungkinan terjadinya pembuahan.

3.Pemantauan pertumbuhan folikel

Dokter akan melakukan pemantuan dengan bantuan pemeriksaan USG (Ultrasonography) dan tes darah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan sel telur di dalam ovarium, serta memantau kadar hormon di dalam tubuh.

4.Pematangan sel telur

Injeksi HCG akan diberikan untuk membantu proses pematangan sel telur Bunda. Dokter akan menentukan waktu yang tepat untuk pemberian injeksi ini. Pemberian suntikan yang terlalu cepat akan menyebabkan sel telur menjadi tidak cukup matang, sedangkan jika diberikan terlalu lama maka sel telur sudah terlalu tua, sehingga kurang optimal untuk pembuahan.

5.Pengambilan sel telur

Sel telur yang telah matang akan diambil oleh dokter. Biasanya dilakukan dalam waktu 34-36 jam setelah Bunda menerima injeksi HCG. Pengambilan sel telur menggunakan bantuan jarum untuk mengambil folikel dari dalam rahim. Nantinya, dari setiap folikel yang didapat, hanya akan diambil satu sel telur untuk masuk ke tahap selanjutnya. Saat proses pengambilan folikel, biasanya Bunda akan diberikan obat analgesik untuk membantu meredakan rasa nyeri. Proses pengambilan sel telur ini dilakukan dengan bantuan USG transvaginal dan berlangsung selama 30 menit hingga 1 jam

6.Penggabungan sel telur dan sel sperma

Sel telur yang telah diambil akan segera dipertemukan oleh sperma Ayah. Sperma juga harus diambil pada hari yang sama. Kemudian akan disimpan untuk melihat perkembangannya. Biasanya, pembuahan akan terjadi pembuahan dalam waktu 12 sampai 24 jam setelah proses penggabungan.

7.Pemindahan embrio ke dalam rahim

Setelah embrio dianggap cukup matang, maka akan dipindahkan ke rahim Bunda. Biasanya dilakukan pada hari kelima setelah terjadi pembuahan. Hal ini dikarenakan pada hari kelima, embrio sudah dapat menempel dengan baik pada dinding rahim. Sebelum embrio dipindahkan, Bunda akan diberikan hormon progesteron untuk mempersiapkan dinding rahim sebagai tempat perlekatan embrio.

gambar proses bayi tabung

gambar proses bayi tabung pada manusia

Apa yang menyebabkan program bayi tabung gagal?

Selain melalui proses bertahap yang memakan waktu dan biaya yang cukup banyak, tidak dapat dipungkiri bahwa program bayi tabung juga bisa mengalami kegagalan. Dilansir dari Nuture Fertility, tingkat keberhasilan program bayi tabung pada wanita muda sekitera 35-40%, artinya lebih dari setengah wanita yang melakukan program bayi tabung dapat mengalami kegagalan. Jadi, ketika Ayah dan Bunda memutuskan untuk mencoba program bayi tabung, maka Ayah dan Bunda juga harus siap menerima segala hasilnya ya.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari program bayi tabung, antara lain:

1.Kualitas embrio

Salah satu alasan yang paling sering menyebabkan kegagalan dari program bayi tabung adalah kualitas embrio yang sudah terbentuk. Embrio yang kurang berkualitas atau mengalami kecacatan menyebabkan embrio tidak dapat menempel pada dinding rahim Bunda. Bahkan embrio yang sudah terlihat berkualitas sekalipun juga tetap memiliki kemungkinan mengalami kecacatan, sehingga tidak dapat berkembang dan lama kelamaan akan mati. Faktor genetik ataupun kelainan kromosom disinyalir sebagai penyebab dari kecacatan embrio.

2.Kualitas sel telur

Kualitas sel telur sangat menentukan tingkat keberhasilan kehamilan, baik melalui proses alami maupun melalui program bayi tabung. Kualitas sel telur umumnya dipengaruhi oleh usia, karena semakin tua usia seorang wanita maka kuantitas dan kualitas sel telur juga akan mengalami penurunan. Menurut Nurture fertility tingkat keberhasilan pada wanita usia di bawah 38 tahun dapat mencapai 39%, namun menurun pada wanita usia di atas 38 tahun dengan tingkat keberhasilan hanya sebesar 17%.

3.Respon ovarium

Meskipun telah diberikan obat-obatan untuk merangsang pematangan sel telur, terkadang ovarium atu indung telur tidak merespon dengan baik. Kegagalan respon ovarium ini biasanya terjadi pada wanita usia di atas 37 tahun, atau pada wanita dengan hormon pemicu pematangan folikel yang sangat tinggi. Apabila hal ini terjadi, maka kemungkinan besar program bayi tabung tidak akan berhasil.

4.Gaya hidup

Faktor ini terkesan sepele, namun ternyata dapat mempengaruhi keberhasilan program bayi tabung loh Bund. Jika Ayah dan Bunda adalah seorang perokok, maka dokter akan meminta Ayah dan Bunda untuk berhenti minimal 3 bulan sebelum memulai program bayi tabung. Selain itu, jika Ayah dan Bunda mengalami kelebihan atau kekurangan berat badan, maka juga akan disarankan untuk melakukan diet untuk mencapai berat badan yang ideal. Usaha-usaha tersebut dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung.

Hal hal yang mendukung keberhasilan proses bayi tabung

Ayah dan bunda yang berencana ataupun sedang menjalani program bayi tabung tentu harus memperhatikan asupan makanan. Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi sesuai dengan kebutuhan nutrisi, tidak hanya Bunda, Ayah pun perlu mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi antara lain makanan yang kaya akan vitamin D, antioksidan, protein, rendah gula dan mengandung nutrisi lainnya yang dibutuhkan tubuh. Selain itu Ayah dan Bunda juga harus menghindari hal-hal yang kurang mendukung kesehatan organ reproduksi dan pertumbuhan janin seperti merokok atau mengonsumsi alkohol.

Apakah ada risiko dari program bayi tabung?

Sebelum memutuskan untuk memulai program bayi tabung, ada baiknya Ayah dan Bunda memahami risiko atau komplikasi yang mungkin dapat terjadi saat melakukan program bayi tabung.

1.Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS)

Sindrom ini dapat terjadi akibat pemberian obat yang menstimulasi pematangan sel telur. OHSS merupakan kondisi ketikan ovarium menghasilkan sel telur dengan jumlah yang melebihi batas normal. Gejala yang dapat muncul adalah perut kembang, mual, muntah, diare, nyeri perut ringan, kram dan penambahan berat badan

2.Kehamilan bayi kembar

Kehamilan bayi kembar mungkin dapat terjadi karena pada prosedur bayi tabung, jumlah embrio yang dimasukkan ke dalam rahim dapat lebih dari satu.

3.Kehamilan di luar kandungan (Kehamilan ektopik)

Kehamilan ektopik merupakan kondisi dimana pertumbuhan janin di luar rongga rahim, seperti pada tuba fallopi. Gejala yang dapat muncul yaitu nyeri perut hebat di salah satu sisi, muncul keputihan dan bercak darah.

Program bayi tabung merupakan salah satu metode alternatif yang dapat Ayah dan Bunda coba untuk mendapatkan keturunan. Namun, pahami segala prosedur dan risikonya ya Bund, konsultasi dengan dokter kandungan yang profesional. Selain berusaha, jangan lupa untuk selalu memohon kepada Tuhan ya Bund. Semoga berhasil!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *