13 Resiko Melahirkan Bayi Prematur Pada Ibu Hamil dan Penyebabnya

5 bulan lalu, by duniabunda

resiko melahirkan prematur

Kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi lebih dari tiga minggu sebelum perkiraan tanggal kelahiran bayi. Umumnya, bayi prematur lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kondisi ini memang tidak bisa diprediksi dan disebabkan oleh beberapa hal tertentu.

Selain mempunyai beberapa penyebab, Bunda perlu memahami bahwa ada sebagian risiko yang dominan menyerang bayi lahir prematur. Namun, Bunda tidak perlu cemas jika mampu mendampingi si kecil dengan baik.

Penyebab Melahirkan Bayi Prematur

Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu diketahui jika bayi prematur dibagi menjadi beberapa golongan, antara lain:

  • Late preterm, kelahiran antara usia kehamilan 34 sampai 36 minggu
  • Moderately preterm, kelahiran antara usia 32 hingga 34 minggu
  • Very preterm, lahir di usia kehamilan kurang dari 32 minggu
  • Extremely preterm, lahir di usia kandungan kurang dari atau sama dengan 25 minggu

Menurut WHO, kelahiran secara prematur bisa terjadi akibat beberapa alasan. Sebagian memang terjadi secara spontan dan yang lain karena upaya induksi awal persalinan maupun melahirkan dengan operasi caesar. Kondisi ini harus mencakup indikasi medis maupun non medis.

Secara umum, Bunda akan menemui penyebabnya berupa kehamilan kembar, infeksi, hingga kondisi kronis karena tekanan darah tinggi atau diabetes. Tidak jarang, hal ini ikut disebabkan oleh keadaan genetik atau keturunan.

Dilansir dari healthline.com, berikut ini penyebab atau faktor risiko yang mendorong persalinan premature:

  • Ibu hamil dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan tekanan darah tinggi
  • Asupan gizi buruk sebelum hingga sesudah kehamilan
  • Merokok, minum alkohol, dan menggunakan obat-obatan terlarang
  • Infeksi saluran kemih
  • Infeksi selaput ketuban pada kehamilan sebelumnya
  • Rahim abnormal
  • Pembukaan servis lebih awal yang semakin melemah
  • Usia ibu hamil di bawah 17 tahun atau lebih dari 35 tahun

Risiko Melahirkan Bayi Prematur

1. Masalah pernafasan

masalah pernafasan pada bayi prematur

masalah pernafasan pada bayi prematur

Bayi prematur memperoleh peluang risiko lebih besar untuk mengalami beberapa masalah dalam pernafasan. Hal ini dikarenakan sistemnya masih belum matang dan terbentuk sempurna.

Kurangnya surfaktan sebagai faktor untuk mengembangkan paru-paru malah memicu sindrom atau gangguan pernafasan. Paru-paru merasa kesulitan untuk mengembang dan berkontraksi secara maksimal atau normal sepanjang waktu.

Bayi prematur juga rentan terkena gangguan paru-paru berupa dysplasia bronkopulmonalis. Selain itu, ada juga apnea yang terjadi dengan gejala jeda napas terlalu panjang pada bayi.

Adanya penyakit paru-paru kronis ikut memicu terjadinya perawatan lebih intensif serta kebutuhan gizi maupun obat-obatan dalam jumlah lebih banyak.

2. Masalah pada otak

Dilansir dari mayoclinic, bayi yang lahir lebih awal atau prematur punya risiko untuk melewati perdarahan otak atau perdarahan intraventrikular. Sebagian mungkin terkena perdarahan ringan yang cenderung lebih cepat sembuh dan terjadi dalam jangka waktu singkat.

Namun, sebagian yang lain bisa jadi mengalami perdarahan dalam kuantitas dan kualitas lebih besar. Hal tersebut bisa menyebabkan cedera otak permanen.

Masalah otak ini ikut meliputi bagian saraf bayi. Beberapa masalah yang bisa menyerang si kecil yang prematur, antara lain cerebral palsy, hidrosefalus, dan periventral leukomalacia (PVL). Tidak jarang ketiganya mampu memicu keterlambatan dan masalah pada perkembangan bayi.

3. Masalah mengontrol suhu tubuh

Bayi prematur mampu kehilangan panas tubuh lebih cepat dibandingkan dengan kondisi normal. Hal tersebut bisa terjadi karena bayi lahir lebih awal tidak memiliki simpanan lemak tubuh dalam kadar cukup. Tingkatan panas tubuh tidak bisa menggantikan panas yang sudah hilang.

Penurunan suhu tubuh dalam keadaan drastis mudah memicu terjadinya hipotermia pada si kecil. Hipotermia ikut menjadi penyebab terjadinya gangguan pernafasan dan menurunnya kadar gula dalam darah.

Energi yang diperoleh dari ASI juga cenderung lebih banyak terpakai untuk regulasi suhu tubuh. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa bayi prematur perlu diletakkan ke dalam inkubator sampai waktu yang sudah ditentukan. Suhu tubuh akan selalu terjaga dengan baik bagi buah hati.

4. Masalah sistem peredaran darah

Beberapa masalah darah yang rentan menyerang bayi prematur adalah anemia dan penyakit kuning. Bayi baru lahir memang punya kesempatan melewati masa penurunan sel darah merah. Tentunya lebih besar dampak negatif terhadap bayi prematur ketimbang bayi pada umumnya.

Meskipun ada beragam penyebab dari penyakit kuning, nyatanya bayi prematur punya risiko lebih besar untuk mengalaminya. Darah bayi mengandung lebih banyak bilirubin pada sel darah merah maupun hati.

Biasanya, risiko penyakit kuning diatasi dengan cara memposisikan bayi di bawah sinar lampu dan melindungi bagian mata. Bayi juga tidak perlu dibalut dengan kain atau pakaian tertentu.

5. Gangguan sistem imunitas

resiko gangguan imunitas pada bayi yang lahir prematur

resiko gangguan imunitas pada bayi yang lahir prematur

Masalah sistem kekebalan tubuh atau imunitas memang biasanya mudah terjadi pada bayi yang lahir prematur.

Kondisi tersebut memang berpeluang memberikan risiko infeksi atau terkena virus lebih besar bagi si kecil. Infeksi bisa menyebar melalui sistem peredaran darah secara cepat dan menimbulkan sepsis.

Tidak heran kalau tenaga kesehatan juga ikut berupaya memberikan pengobatan dan perawatan intensif agar bayi prematur mampu beradaptasi dengan baik.

Umumnya, dilakukan pemberian ASI eksklusif secara teratur sampai usianya mencukupi dan tidak perlu bergantung terlalu banyak pada kebutuhan medis.

6. Masalah penglihatan

Salah satu masalah atau risiko yang bisa menyerang bayi prematur pada penglihatan adalah retinopati prematuritas. Masalah ini bisa terjadi jika pembuluh darah mulai membengkak dan tumbuh secara berlebih pada lapisan saraf yang peka cahaya di bagian retina atau belakang mata.

Pembuluh retina yang sifatnya abnormal mampu melukai retina secara bertahap sekaligus menariknya keluar dari posisi seharusnya. Kondisi ini disebut juga dengan pelepasan retina. Apabila tidak terdeteksi dalam jangka waktu yang lama, akibatnya akan merusak penglihatan sampai menyebabkan kebutaan.

Meskipun bisa sembuh secara normal, tentu memungkinkan bagi bayi untuk mendapatkan perawatan sampai operasi laser khusus dalam penanganannya. Diagnosis khusus dan perawatan intensif dilakukan dalam kasus yang sangat parah.

7. Masalah pencernaan

Begitu juga dengan sistem pencernaan yang belum sempurna, bayi prematur cenderung berisiko terkena komplikasi. Salah satunya adalah NEC atau necrotizing enterocolitis. Kondisi ini cenderung berpotensi serius karena ada luka pada sel-sel lapisan pada dinding usus.

Gejalanya memang berbeda-beda pada setiap bayi. Namun, ada beberapa hal yang bisa Bunda perhatikan untuk mencurigai NEC:

  • Perut bengkak atau kembung
  • Kotoran bayi berdarah
  • Kesulitan bernafas, lesu

Umumnya, NEC mulai terjadi ketika bayi sudah menyusu dan sebaiknya ASI terus menerus dioptimalkan agar risikonya ikut menjadi rendah.

8. Masalah metabolisme

masalah metabolisme pada bayi prematur

masalah metabolisme pada bayi prematur

Bayi prematur juga sering mengalami masalah pada metabolisme. Tidak jarang si kecil mengalami hipoglikemia atau tingkat gula darah yang rendah abnormal. Kondisi tersebut terjadi karena bayi prematur mempunyai simpanan glukosa lebih rendah dibandingkan bayi cukup bulan.

Bayi prematur kesulitan untuk mengubah simpanan glukosa tersebut menjadi glukosa aktif yang lebih bermanfaat bagi kelangsungan kinerja tubuh. Masalah yang biasanya terlihat pada bayi adalah badan yang suka gemetar, kulit kebiruan, hingga masalah pada pernafasan.

Otak membutuhkan glukosa agar dapat bekerja dengan baik. Kurangnya glukosa dalam waktu lama akan berpengaruh negatif pada kinerjanya. Maka, tidak heran jika hipoglikemia parah atau tidak ditangani mampu menyebabkan kejang dan cedera otak yang serius.

9. Masalah pada gigi

Risiko lain yang perlu Bunda perhatikan adalah hypoplasia atau perubahan enamel pada gigi dan umumnya disebut sebagai gigi prematur. Peluang terjadinya hypoplasia empat kali lebih besar bagi bayi yang tergolong prematur.

Gigi yang tumbuh menjadi lebih lembut, lebih mudah keropos, hingga mudah berlubang. Gigi susu ikut mempunyai bercak-bercak coklat kuning karena kadar bilirubin yang berlebihan. Hal ini akan memengaruhi kesehatannya sekaligus penampakan gigi pada bayi yang bertumbuh.

Dua masalah gigi lainnya yang tidak jauh dari bayi prematur adalah erupsi gigi terlambat dan alur palatal akibat intubasi yang terlalu lama. Dampaknya juga termasuk meluas, seperti gigi berdesakan, posisi buruk, kesulitan menghisap, dan peluang mengalami gangguan pendengaran.

10. Gangguan perilaku dan psikologi

Tentu ada sebagian masalah perilaku dan psikologi yang akan diungkapkan oleh bayi maupun anak lahir prematur. Temperamen yang tidak stabil kadang-kadang mampu memengaruhi hubungan bayi dengan orang tua atau pengasuhnya, seiring pertumbuhan menjadi balita hingga anak-anak.

Dilansir dari child-encyclopedia.com, literatur telah menunjukkan bahwa bayi prematur termasuk rentan dalam masalah emosional maupun penyesuaian perilaku. Sebuah penelitian memperlihatkan bagaimana bayi prematur berisiko terkena masalah psikologis berupa ADHD.

Tidak jarang anak-anak prematur menunjukkan adanya kurang rasa senang terhadap interaksi bersama orang tua. Ada kekurangan respon pada interaksi sosial. Masalah intelektual maupun keterampilan perlu mendapatkan perhatian khusus dari Ayah dan Bunda bagi si kecil.

11. Masalah pada jantung

masalah jantung pada bayi prematur

masalah jantung pada bayi prematur

Risiko paling umum yang ditemui pada bayi lahir prematur adalah PDA atau patent ductus arteriosus dan hipotensi atau tekanan darah rendah. PDA merupakan pembukaan yang sifatnya persisten di tengah-tengah arteri pulmonalis serta aorta.

Walaupun bisa membaik dengan sendirinya, penanganan yang tidak didahulukan mampu memicu gagal jantung, murmur, hingga komplikasi buruk lainnya. Sedangkan, kondisi hipotensi pada bayi perlu mendapatkan infus, obat-obatan, hingga transfusi darah.

Selain itu, kondisi cacat jantung yang bisa menyerang bayi prematur sering kali menjadi faktor penyebab kelahiran secara prematur. Hal ini bisa terjadi akibat perkembangan dan pembentukan jantung yang kurang baik selama kehamilan berlangsung.

12. Masalah pendengaran

Hilangnya pendengaran menjadi masalah umum yang dialami oleh bayi dengan kelahiran prematur. Menurut American Speech-Language Hearing Association (ASHA), satu sampai tiga dari 1000 kelahiran bayi mempunyai gangguan pada pendengarannya.

Angka ini bisa meningkat drastis hingga 32 dari 1000 bagi bayi yang dirawat secara intensif di NICU. Sebagian termasuk dalam kelahiran prematur. P

adahal, hanya butuh waktu 48 jam bagi bayi normal untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan, bayi prematur di NICU harus menunggu sampai kondisinya pulih kembali.

13. Risiko penyakit kronis

Bayi prematur cenderung punya masalah dan risiko untuk menghadapi penyakit kronis. Sebagian mungkin cukup memperoleh perawatan khusus di rumah, namun tidak jarang ada pengobatan secara intensif melalui bantuan rumah sakit.

Beberapa masalah yang bisa terjadi adalah asma, infeksi, hingga masalah makan pada usia bayi, balita, maupun anak-anak. Tidak hanya itu, Bunda perlu waspada dan sigap karena bayi prematur berisiko tinggi mengalami SIDS atau sindrom kematian bayi mendadak.

 

Itulah risiko yang bisa terjadi jika Bunda melahirkan secara prematur, terkhusus pada outcome si kecil mengenai kesehatannya. Tidak perlu merasa cemas dan khawatir karena yang terpenting Bunda harus memaksimalkan masa kehamilan agar janin ikut merasa bahagia dan sejahtera. Sehat selalu, Bun!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *