Penyebab Latah Pada Anak (Echolalia) dan Cara Untuk Mengatasinya

3 minggu lalu, by duniabunda

tips mengatasi echolalia pada anak

Apakah saat ini si kecil sedang belajar dan berusaha untuk bicara? Jika ya, Bunda pasti suka mengamati bagaimana caranya mengulangi beberapa ucapan sampai mereka bisa fasih secara mandiri.

Menginjak usia 3 atau 4 tahun, kebiasaan ini seharusnya sudah hilang karena kemampuannya untuk berbicara sudah berkembang.

Namun, apabila hal tersebut cenderung tidak menghilang, Bunda perlu mempertanyakan apakah si kecil mengalami Echolalia. Bunda harus memahami dulu apa itu dan tips mengatasi Echolalia pada anak.

Apa Itu Echolalia?

apakah itu echolalia

defenisi echolalia dan penjelasannya

Dilansir dari medicinenet.com, Echolalia merupakan sebuah kondisi di mana terjadi pengulangan yang tidak diminta, tidak berarti, atau menggema dari vokalisasi atau ucapan orang lain atau sering disebut dengan istilah latah

Si kecil dengan Echolalia senantiasa mengulangi sebuah suara, frasa, atau kata-kata dalam waktu yang cukup lama. Adanya autisme dan gangguan perkembangan dapat menunjukkan Echolalia.

Selain itu, Echolalia dapat dikenali sebagai gangguan pada kecerdasan otak anak dan mentalnya. Hal ini bisa berdampak pada komunikasi yang tidak normal atau kesulitan untuk memahami orang lain.

Menurut study.com, Echolalia sebenarnya memiliki peran yang penting dalam perkembangan awal kebahasaan anak-anak. Cara mendasar yang selalu dipraktikkan adalah menyalin suara, kata, sekaligus pola bicara orang di sekitarnya.

Penjelasan tersebut mendukung Echolalia sebagai sesuatu yang normal pada anak-anak untuk memulai perkembangan berbicara sampai 4 tahun.

Seiring berjalannya waktu, apabila kemampuan tersebut tidak menjadi lebih spontan atau kreatif, maka bisa jadi ada masalah pada perkembangannya dan menjurus pada Echolalia abnormal.

Gejala Echolalia

Gejala utamanya adalah berbicara berulang-ulang, entah itu dengan kata-kata yang sama atau repetisi selama berjam-jam. Selain itu, anak tersebut cenderung mengulangi pertanyaan dibandingkan menjawabnya.

Bunda bisa mulai mengamatinya ketika si kecil mengulangi perkataan Bunda. Contohnya, sewaktu Bunda bertanya kepadanya, “Adik mau kue?”. Ia akan menjawab dengan “Kue,” bukan “Iya” atau “Mau”.

Beberapa gejala lain juga dapat terjadi pada usia balita, antara lain:

  • Tidak ada kontak mata
  • Tidak ada keinginan untuk berinteraksi sosial
  • Melakukan gerakan-gerakan yang tidak biasa

Jenis Echolalia

Jenis jenis echolalia

Jenis jenis echolalia

Dilansir dari healthline.com, ada beberapa jenis Echolalia yang bisa dialami oleh si kecil dalam masa pertumbuhannya, antara lain:

1.  Echolalia interaksional

Kondisi di mana Echolalia terjadi ketika ada komunikasi atau interaksi. Biasanya digunakan sewaktu berhubungan dengan orang lain.

  • Turn taking atau pengambilan giliran. Anak menggunakan frasa untuk mengisi pertukaran verbal secara bergantian.

Contoh: Orang dewasa bertanya kepada anak-anak mengenai apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengisi waktu akhir minggu ini. Si kecil menjawab dengan jangan lupa memakai celana renang. Pertanyaan tersebut dijawab dengan instruksi yang menunjukkan sebuah kegiatan sekaligus menjawab pertanyaan.

  • Penyelesaian verbal. Penggunaan pidato untuk menyelesaikan rutinitas verbal yang sudah dikenal dan dimulai orang lain.

Contoh: Ketika si kecil diminta untuk menyelesaikan atau melakukan sebuah tugas, mereka akan menjawab dengan “Kerja bagus!” untuk menggemakan apa yang selalu didengar saat sudah menyelesaikan tugas tersebut.

  • Memberikan informasi. Mungkin si kecil bermaksud untuk memberikan informasi baru, namun agak sulit untuk menghubungkin titik-titik ucapan tersebut.

Contoh: Bunda menawarkan kepada si kecil mengenai apa yang ia inginkan untuk makan siang. Ia menjawabnya dengan nyanyian dari iklan makan siang daging hanya untuk mengatakan kalau ia ingin sandwich.

  • Jenis Echolalia ini cenderung ditunjukkan mengungkapkan keinginan melalui penyampaian pertanyaan.

Contoh: Si kecil ingin makan siang dan mengungkapkannya dengan “Mau makan siang?”

2.  Echolalia non interaksional

Jenis non interaksional biasanya digunakan untuk pribadi dan bukan bentuk komunikasi dengan orang di sekitarnya.

  • Berbicara tidak fokus. Si kecil dengan Echolalia suka membicarakan sesuatu yang tidak relevan dengan situasi di sekitarnya.

Contoh: Ia suka berbicara dan mengulangi perkataan dari TV sambal mengitari ruangan kelas selama pelajaran berlangsung.

  • Asosiasi situasi. Ucapan atau ungkapan yang dibicarakan biasanya dipicu oleh situasi, orang, visual, atau aktivitas. Hal ini menunjukkan tidak adanya upaya komunikasi.

Contoh: Saat si kecil melihat sebuah produk bermerek di sebuah toko, ia akan menyanyikan iklan dari produk tersebut secara spontan.

  • Anak mungkin berupaya untuk mengucapkan frasa yang sama secara lembut pada diri sendiri beberapa kali sebelum menjawab dengan suara normal. Hal ini sebagai bentuk latihan untuk interaksi yang akan datang.
  • Mengarahkan diri sendiri. Jenis Echolalia ini mendorong si kecil untuk menggunakan beberapa pembicaraan dalam menyelesaikan sebuah proses pekerjaan.

Contoh: Ketika ia ingin membuat sandwich, Bunda akan melihatnya berbicara tahapan yang detail untuk menyajikan sandwich.

Tips Mengatasi Echolalia

1.  Terapi berbicara

terapi berbicara untuk mengatasi echolalia

terapi berbicara untuk mengatasi echolalia sejak dini

Beberapa orang mungkin menghadiri sesi terapi bicara untuk membantunya lepas dari gangguan Echolalia. Bunda juga bisa mengajarkan anak berbicara dengan mengikuti cara yang satu ini.

Sesi bicara ini akan membantu si kecil untuk mempelajari, mengungkapkan, dan mengatakan apa yang sudah dipikirkan. Terapis tidak jarang menggunakan intervensi “cues-pause-point’ selama perawatan.

Anak dengan Echolalia harus menjawab sebuah pertanyaan dengan benar kemudian ada jeda sebelum menjawabnya. Saat aba-aba sudah diberikan, terapis akan menggunakan acuan yang menunjukkan bahwa jawaban tersebut sudah benar.

2. Terapi obat

Untuk mengatasi efek samping yang timbul akibat Echolalia, dokter bisa memberikan resep antidepresan atau obat kecemasan untuk dikonsumsi dengan tidak berlebihan. Selain mengobati, terapi ini juga memberikan ketenangan kepada si kecil sepanjang hari.

Gejala ini bisa meningkat seiring si kecil merasa stres atau cemas. Dengan kondisi yang lebih tenang, kebiasaan atau gangguan yang buruk ini bisa diredakan.

3. Modelkan bahasa dari sudut pandang anak

modelkan bahasa dari sudut pandang anak

modelkan bahasa dari sudut pandang anak

Dikutip dari teachmetotalk, Bunda bisa menggunakan frasa dan kata yang sebenarnya bisa dipahami serta ditiru oleh si kecil. Berikan kata-kata yang cenderung menunjukkan aktivitas dibandingkan pengucapan biasanya.

Berikan contoh dengan kata-kata yang lebih simpel, misalnya ajarkan menolak dengan menggunakan “Tidak” atau “Tidak suka”. Atau pakai “Berhenti” dan “Milikku” apabila barang favoritnya ingin direbut oleh orang lain.

Selain itu, gunakan bahan ajar buku bergambar untuk meningkatkan pemahamannya akan sesuatu. Mulai dengan satu kata terlebih dahulu kemudian susul dengan beberapa kata yang deskriptis dan berbobot untuk dipelajari.

4.  Pembiasaan penguatan

Penguatan merupakan sebuah intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan frekuensi suatu perilaku. Konsekuensi dari perilaku ini berupa sesuatu yang menyenangkan, sehingga disebut penguatan positif.

Bunda masih tetap bisa memberikan penghargaan kepada si kecil pada tempatnya sekaligus mencegah kesalahan dengan memberikan feedback bila ada respon yang salah.

Koreksi tanggapan yang salah dapat dilakukan dengan bantuan peniruan verbal, petunjuk, serta penunjukkan isyarat visual atau non verbal. Apabila frekuensi ini berjalan stabil, otomatis kemampuan komunikasi akan meningkat secara maksimal.

5.  Atur respon dan pengalihan

atur respon dan pengalihan

atur respon dan pengalihan

Apabila diperhatikan, Echolalia pada anak bisa terjadi sebagai bentuk pelepasan sensorik. Bunda bisa merasakannya ketika ia bosan, lelah, lapar, atau merasa cemas.

Sebagai salah satu cara untuk menenangkan diri, salah satu tips mengatasi Echolalia pada anak adalah menilai dan membantu menangani situasi yang sedang dihadapi olehnya.

Libatkan anak Bunda dalam sebuah aktivitas sambil mengalihkan perhatiannya dari Echolalia yang mengganggunya. Bunda bisa menunggunya untuk mengulangi ungkapan ketika ia menginginkan sesuatu. Perintah verbal bisa jadi cara efektif untuk membantunya berkembang dalam mengatasi cara berkomunikasi.

Setelah mampu mengikuti perintah yang diberikan secara verbal, Bunda bisa mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan produktif lainnya.

Contoh yang dapat diberikan, yaitu saat Bunda menawarkan biskuit dalam bentuk “Apakah adik ingin biskuit?” dan berikan jeda beberapa saat. Apabila dirasa ia sudah cukup mengerti, katakan “Saya ingin biskuit” kemudian tunggu sampai ia mengucapkannya kembali. Barulah Bunda dapat memberikan biskuit yang ia inginkan.

6. Mendengarkan dengan baik adalah kunci

Selain meminta si kecil untuk mampu berlatih mendengarkan dengan baik, ternyata Bunda juga perlu menerapkan kebiasaan mendengarkan untuk diri sendiri dalam rangka mengatasi Echolalia pada anak.

Sebagai acuan dalam mendengarkan, Bunda bisa menjawab pertanyaan yang dikutip dari hanen.org terlebih dahulu, yaitu:

  • Saat mendengarkan pengucapannya, perhatikan apakah ia berusaha untuk menggemakan kembali atau mengubahnya secara spontan dan mandiri?
  • Dari mana ia mengetahui penggemaan kata-kata tersebut?
  • Apa yang dikatakanya sebelum mengulang-ulang beberapa kata?

Biarkan Bunda sendiri yang mendengarkannya secara saksama dan lebih cermat. Apabila hal ini ikut dibiasakan, maka Bunda akan mendapatkan lebih banyak petunjuk mengenai apa yang anak-anak coba untuk komunikasikan.

7. Tunggu anak menyelesaikan pembicaraannya

tunggu anak menyelesaikan pembicarannya

tunggu anak menyelesaikan pembicarannya

Dengan mengutamakan sifat yang tidak sabaran, Bunda akan cenderung melewatkan beberapa petunjuk dalam mengisyaratkan pesan yang diberikan oleh anak-anak.

Selama berinteraksi bersamanya, usahakan untuk tidak menyela kesempatannya berbicara. Entah itu benar atau salah, terkadang melalui hal-hal tersebut Bunda mampu menelaah maksud serta tujuannya berkata-kata untuk dievaluasi.

Bahkan, Bunda juga tidak boleh melewatkan perasaan si kecil yang ingin merasa bahwa dirinya penting dan ingin dimengerti dengan baik.

Bersikap sabar ketika Bunda seharusnya cepat-cepat memperbaiki kesalahan si kecil memang bukan perkara mudah. Namun, apabila Bunda mau bekerja sama dengan si kecil, masalah Echolalia dapat berkurang atau bahkan teratasi dengan baik.

8. Lakukan sedikit observasi

Tips mengatasi echolalia pada anak selanjutnya adalah melakukan observasi. Bukan observasi yang menyusahkan, namun Bunda melakukan observasi dalam artian yang lebih baik untuk membantunya mengatasi Echolalia.

Selain memperhatikan dengan baik, Bunda perlu tindakan observasi untuk mendalami apa yang Bunda perhatikan. Salah satunya adalah hal-hal yang menarik minatnya atau senang melakukan aktivitas produktif tertentu.

Pengamatan ini juga tidak sekadar hal-hal tertentu yang terlihat dari luar, namun telaah juga perasaannya supaya apa yang ingin disampaikan mudah dipahami serta dikoreksi secara maksimal.

Jangan lupa untuk mengajaknya mereview kembali hal baru yang baru saja dipelajari. Dengan begitu, observasi yang sudah dilakukan menjadi sarana bantuan terbaik bagi Bunda dalam memperbaiki kondisi si kecil di kesehariannya.

9. Buat pembelajaran yang menarik

buat pembelajaran yang menarik

buat pembelajaran yang menarik

Dalam kondisi khusus yang dialami si kecil, Bunda juga bisa menggunakan metode pembelajaran yang menarik untuk dilakukan si kecil.

Bunda bisa menggunakan media pembelajaran seperti flashcard untuk membantunya mempelajari bahasa-bahasa yang mudah dipahami dan bisa dipakai sehari-hari.

Selain belajar bersama si kecil, jangan lupa untuk mempraktikkannya saat itu juga. Bunda bisa membantu memperbaikinya apabila ada kesalahan yang bisa dibenahi kembali ketika ia harus berkomunikasi dengan orang selain Bunda.

Selain menjadi teman bermain, tentu Bunda juga bisa menjadi guru yang terbaik, bukan?

10.  Jangan berhenti untuk mendampingi si kecil

Ketika Bunda sudah memahami dengan pasti kondisi si kecil saat itu, tidak ada pilihan selain membantunya untuk berkomunikasi secara maksimal.

Selain bersikap sabar, Bunda harus mampu mengutamakan ketelatenan supaya anak dengan Echolalia dapat belajar dengan baik dan mampu mengikuti apa yang Bunda ajarkan.

Meskipun terasa lama, Bunda harus menyadari bahwa hal tersebut merupakan salah satu bagian dari proses yang tidak terlupakan. Jangan sampai lengah dan tetap semangat untuk mendidik si kecil selama proses pertumbuhannya, ya Bun!

 

Tips mengatasi Echolalia pada anak di atas setidaknya bisa Bunda praktikkan dalam mengurangi gangguan yang terjadi pada anak-anak. Apabila si kecil dapat belajar secara optimal, paling tidak Echolalia bukan penghambat besar yang mampu ditangani bersama antara anak dan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *